MALANG KOTA - Penurunan tipis harga emas pada awal Ramadan mendorong peningkatan minat masyarakat untuk berinvestasi logam mulia. Di tengah tekanan harga kebutuhan pokok, emas kembali dilirik sebagai instrumen lindung nilai alias safe haven.
Di sejumlah gerai pegadaian dan ritel emas, harga tercatat sempat turun sekitar Rp10 ribu per seperempat dinar atau setara 1,06 gram menjelang Ramadan. Meski kemudian merangkak naik sekitar Rp2 ribu, minat beli masyarakat tidak surut.
Laili Nuril Safitri, pedagang emas di Kota Malang, mengatakan momentum koreksi harga sekecil apa pun kerap dimanfaatkan konsumen untuk masuk pasar. “Bagi yang paham nilai jangka panjang, penurunan sedikit saja sudah dianggap peluang,” ujarnya.
Menurut dia, tren pembelian awal tahun ini menunjukkan pergeseran perilaku konsumen. Pada Januari, transaksi hanya sekitar lima keping, tetapi didominasi pembelian ukuran besar seperti setengah dinar, dengan total omzet mencapai Rp14,7 juta.
Sementara pada Februari hingga pertengahan Ramadan, jumlah transaksi meningkat menjadi sekitar 10 keping. Namun pembelian cenderung pada gramasi lebih kecil. Total penjualan sementara tercatat Rp9,7 juta.
“Sekarang lebih banyak yang beli pecahan kecil. Nominalnya memang lebih ringan, tapi frekuensinya naik,” katanya. Laili menilai mayoritas pembeli menggunakan dana menganggur atau uang dingin untuk investasi.
Keputusan membeli tidak selalu menunggu harga turun drastis, melainkan disesuaikan dengan ketersediaan dana. “Begitu ada uang lebih, langsung dibelikan emas. Tidak harus menunggu harga jatuh,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, emas tetap dipandang sebagai instrumen penyimpan nilai yang relatif stabil. Ramadan, yang identik dengan peningkatan pengeluaran konsumsi, justru dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk mengamankan aset jangka panjang. (Nuraini/ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan