Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kuota LPDP Naik, Jalur Non-STEM Susut

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 22 Februari 2026 | 14:23 WIB

Logo beasiswa LPDP. (Sumber: Harian Jogja)
Logo beasiswa LPDP. (Sumber: Harian Jogja)

MALANG KOTA – Kuota beasiswa LPDP Tahap I 2026 secara nasional meningkat dari 4.295 penerima pada 2025 lalu menjadi 5.750 tahun ini. Total kuota tersebut terdiri atas 1.000 untuk jenjang sarjana (S1) melalui Beasiswa Garuda, 4.000 untuk magister (S2) dan doktoral (S3), serta 750 untuk program dokter spesialis.

Ketua Umum PP IKA UM Prof Dr Suparno menilai lonjakan kuota menjadi peluang konkret yang tidak boleh dilewatkan. Namun peluang itu, kata dia, hanya dapat diraih dengan persiapan matang.

“Dana LPDP memang besar dan disiapkan untuk mendukung studi lanjut. Tapi tanpa strategi yang tepat, peluang itu bisa terlewat. Karena itu, pengalaman dari para awardee perlu ditularkan,” ujarnya dalam webinar bertajuk LPDP 2026: Ready, Prepared, and Successful secara daring melalui zoom meeting pada 16 Februari lalu.

Tahun ini, ada perubahan orientasi kebijakan yang perlu dicermati pendaftar. Presiden Prabowo Subianto mengarahkan agar alokasi beasiswa diperbanyak pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dengan target komposisi di atas 80 persen. Konsekuensinya, persaingan di jalur non-STEM diprediksi makin ketat.

Salah satu narasumber Fatwah Inna Aulisaina SE alumni FEB UM sekaligus awardee LPDP yang kini menempuh studi di Lancaster University, Inggris, memaparkan tiga kesalahan yang kerap membuat kandidat gugur sejak tahap awal.

Pertama, banyak pendaftar tidak riset jalur seleksi yang paling sesuai dengan profil dan rencana studi mereka. Kedua, persiapan sertifikat bahasa baik IELTS maupun TOEFL yang sering ditunda hingga mendekati penutupan pendaftaran.

Padahal, skor bahasa merupakan syarat mutlak. Ketiga, esai ditulis tanpa memahami secara mendalam apa yang sebenarnya dinilai LPDP. “Riset jalur yang tepat, siapkan sertifikat bahasa dari jauh hari, dan latih jawaban wawancara dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Jangan mendaftar dalam kondisi belum siap,” tegasnya.

Narasumber lain Prof Dr Dyah Werdiningsih MPd menambahkan seleksi LPDP tidak semata bertumpu pada indeks prestasi atau rekam akademik. Penilai, kata dia, mencari kejelasan visi dan komitmen kontribusi pascastudi.

“Banyak kandidat kuat secara akademik, tetapi gagal menjelaskan kontribusinya untuk Indonesia. Padahal LPDP mencari calon pemimpin masa depan, bukan hanya mahasiswa berprestasi,” tandasnya. (Wanasa Rahmat Akbar Adzani/ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#kuota LPDP naik #kuota LPDP 2026