Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Perbedaan Awal Ramadhan, Komisi VIII DPR Imbau Agar Umat Islam Tak Bercerai-Berai

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 18 Februari 2026 | 17:37 WIB
Petugas mengamati hilal mengunakan teropong di Masjid Hasyim Ashari, Kalideres, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pemantauan hilal tersebut untuk menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Petugas mengamati hilal mengunakan teropong di Masjid Hasyim Ashari, Kalideres, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pemantauan hilal tersebut untuk menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Radar Batu—Pemerintah secara resmi menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil setelah Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, menjelaskan bahwa penetapan dilakukan karena hasil pemantauan hilal di seluruh wilayah Indonesia menunjukkan hilal tidak terlihat. Posisi hilal di Indonesia juga berada di bawah kriteria yang ditentukan, yakni kurang dari 2 derajat.

"Seperti yang disampaikan oleh Menteri Agama, hasilnya tidak memungkinkan melihat hilal karena posisinya masih minus. Oleh karena itu, dengan mufakat Ramadhan jatuh pada hari Kamis," kata Marwan dalam konferensi pers 'Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadhan 1447 Hijriah' di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2).

Marwan mengakui bahwa perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan masih mungkin terjadi. Namun, ia mengimbau agar hal tersebut tidak menimbulkan perpecahan di antara umat Islam.

"Karena diksi untuk menetapkan beribadah ini berbagai cara pandang, masih memungkinkan terjadinya perbedaan. Oleh karena itu, perbedaan ini tidak menjadikan kita bercerai-berai, mari kita saling menghargai," imbaunya.

Meski begitu, Marwan menilai terdapat peluang untuk mempertemukan berbagai pandangan terkait penetapan awal Ramadhan.

"Karena itu, sebagai Ketua Komisi VIII, kami nanti akan mendukung mempertemukan cara pandang, sehingga kita bisa sama-sama melaksanakan ibadah, terutama Ramadhan maupun nanti Syawal," tegasnya.

Dalam sidang tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa pemerintah menggunakan kriteria visibilitas hilal MABIMS, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

Dari hasil pemantauan, posisi hilal di seluruh Indonesia berada pada rentang ketinggian antara -2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Angka tersebut masih berada di bawah ketentuan MABIMS.

"Hal ini berarti posisi hilal bukan saja ghairu imkanur rukyat (tidak mungkin dilihat), tetapi juga ghairu wujudul hilal (hilal belum wujud) karena masih di bawah ufuk," tuturnya.

Karena itu, secara hisab data hilal pada hari tersebut belum memenuhi standar visibilitas hilal MABIMS.

"Dengan demikian, berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026," pungkasnya.

 

Penulis: Qonita Naila Syahida

Editor : Fajar Andre Setiawan
#awal ramadhan #islam #sidang isbat