Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Batik Banteng Tembus Pasar Global

Fajar Andre Setiawan • Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:00 WIB
PRODUK LOKAL: Sejumlah siswa belajar membatik di Galeri Batik Anjani, Kelurahan Ngaglik beberapa waktu lalu.
PRODUK LOKAL: Sejumlah siswa belajar membatik di Galeri Batik Anjani, Kelurahan Ngaglik beberapa waktu lalu.

BATU - Batik banteng sebagai salah satu identitas budaya Kota Batu kian menembus pasar internasional. Melalui Batik Anjani, motif khas yang sarat filosofi lokal tersebut tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga mulai dilirik pasar mancanegara.

Batik Anjani didirikan pada 29 Agustus 2014 dan menjadi salah satu pelopor pengembangan motif batik banteng sebagai identitas daerah. Awalnya, galeri batik berlokasi di kawasan Ngaglik sebelum akhirnya dipindah ke Kecamatan Bumiaji.

Lokasi baru dipilih karena dinilai lebih representatif sebagai kawasan edukasi sekaligus destinasi wisata belajar membatik bagi masyarakat dan pelajar. Pemilik Batik Anjani, Anjani, mengatakan ketertarikannya pada batik berawal dari latar belakang keluarga seniman lukis.

Namun, seiring menurunnya minat pasar terhadap seni lukis, ia mulai berinovasi dengan beralih ke batik. Menurutnya, seni melukis dan membatik memiliki dasar yang sama, hanya berbeda pada teknik pengerjaan.

“Dari situ kami mencoba mengembangkan batik sebagai media baru untuk berkarya sekaligus melestarikan budaya,” ujarnya. Kini, Batik Anjani tidak hanya dikenal sebagai pusat wisata edukasi, tetapi juga telah menembus pasar internasional.

Produk batik banteng khas Kota Batu telah dipamerkan di berbagai ajang seni, termasuk di Paris, serta dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa. Sebelum menembus pasar global, Anjani terlebih dahulu menguji respons pasar melalui pameran di Jakarta.

Setiap tiga bulan, koleksi edisi khusus diluncurkan untuk melihat minat konsumen. Produk yang mendapat respons positif kemudian dipasarkan ke pasar internasional. Meski telah menembus pasar luar negeri, Anjani menilai tantangan utama bukan lagi persaingan.

Namun, tantangan yang sebenarnya adalah kemampuan membaca selera pasar. Menurut dia, konsumen dengan minat seni tinggi lebih tertarik pada filosofi motif, sementara yang berorientasi fashion cenderung mempertimbangkan model, warna, dan kenyamanan bahan.

“Di beberapa negara, filosofi motif sangat dihargai. Tapi di kota fashion seperti Paris, desain dan kenyamanan bahan lebih menentukan,” katanya. Ia menyebut pencapaian paling membanggakan adalah ketika pasar batik banteng datang secara organik.

“Harapannya, budaya lokal tetap dilestarikan dan pemerintah lebih peduli pada UMKM yang menjaga warisan budaya. Jangan sampai pelaku usaha budaya justru ditinggalkan,” ujarnya. (Hiatira Feyza/ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#Filosofis #kota batu #batik