Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

MI Hadapi Kendala Penerapan Deep Learning, 250 Guru Dapat Pembekalan Koding

A. Nugroho • Minggu, 21 Desember 2025 | 19:37 WIB

FOKUS: Guru dan siswa di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di  Kota Batu melakukan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas  beberapa waktu lalu.
FOKUS: Guru dan siswa di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di Kota Batu melakukan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas beberapa waktu lalu.

 

BATU - Penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Batu masih menghadapi sejumlah kendala. Rendahnya keaktifan siswa dalam proses belajar menjadi hambatan utama. Hal itu membuat guru harus melakukan banyak penyesuaian agar metode tersebut dapat berjalan efektif.

 

Ketua Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kota Batu, Suparsi, mengatakan implementasi deep learning di MI tidak bisa disamakan dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain karena program masih relatif baru, karakter peserta didik juga berbeda. Tentu saja itu menuntut pendekatan yang lebih sabar dan bertahap.

 

Menurut Suparsi, salah satu persoalan paling sering ditemui yakni siswa belum berani menyampaikan pendapat atau mengemukakan gagasan. Padahal dalam konsep deep learning, siswa dituntut aktif, kritis, dan mampu memahami materi secara mendalam. “Masih banyak siswa yang belum terbuka dan kesulitan mengungkapkan ide,” katanya.

 

Dari sekitar 14 MI di Kota Batu, ia menyebut nyaris semua MI mengalami persoalan yang sama. Kendala paling terasa terjadi di kelas rendah, khususnya kelas 1 hingga kelas 3. Sebab, pada fase ini, siswa masih berada dalam masa transisi dari pendidikan taman kanak-kanak. “Di jenjang SMP mungkin lebih mudah karena siswa sudah lebih berani,” imbuhnya.

 

Ia menjelaskan deep learning menuntut pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan. Siswa diarahkan untuk memahami konsep, mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, serta mampu menerapkannya. Tantangannya, kebiasaan anak yang lebih akrab dengan gawai kerap membuat proses pengaitan materi dengan realitas menjadi tidak mudah.

 

“Namun, ini masih wajar karena masih masa penyesuaian. Otomatis tidak bisa langsung berjalan ideal,” katanya. Sebagai langkah adaptasi, para guru mulai mendorong penguatan literasi siswa. Terutama kemampuan membaca dan memahami teks. Tujuannya agar kesiapan siswa mengikuti pembelajaran berbasis pemahaman mendalam meningkat. 

 

250 Guru MI Dapat Pembekalan Deep Learning dan Koding

 

Sebanyak 250 guru MI di Kota Batu mengikuti workshop deep learning dan koding sebagai upaya peningkatan kapasitas pendidik. Kegiatan ini digelar KKMI Kota Batu dan menjadi agenda rutin dua kali dalam setahun, tepatnya pada setiap akhir semester.

 

Workshop edisi kedua tahun ini berlangsung selama tiga hari yakni 10-12 Desember. Lokakarya itu digelar bekerja sama dengan menggandeng Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai mitra akademik dan pemateri.

 

Pelatihan ini diarahkan untuk membekali guru MI menghadapi perubahan pendekatan pembelajaran yang semakin menekankan pemahaman konseptual, literasi digital, serta penguatan karakter.

 

Suparsi mengatakan materi pelatihan tahun ini difokuskan pada tiga pendekatan utama, yakni deep learning, pengenalan koding, dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Ketiganya dinilai membutuhkan penguatan dan penyesuaian.

 

“Karena ini relatif baru, guru perlu dibekali agar mampu membentuk ruang belajar yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, workshop dibagi ke dalam dua kelompok pembelajaran, yakni guru kelas bawah dan kelas atas.

 

Selama dua hari pertama, kegiatan dilaksanakan secara luring dan terpusat di MI Bustanul Ulum, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. Pada hari ketiga, peserta diminta menerapkan materi pelatihan secara langsung di sekolah masing-masing.

Suparsi menjelaskan deep learning menitikberatkan proses memahami secara mendalam dan memiliki tiga pilar utama. Yakni meaningful learning (belajar bermakna), mindful learning (belajar dengan kesadaran), dan joyful learning (belajar yang menyenangkan).

 

Sementara itu, pembelajaran koding di jenjang MI diarahkan pada pengenalan konsep dasar pemrograman secara sederhana, interaktif, dan kontekstual. “Bukan penguasaan bahasa pemrograman yang rumit, tetapi pada logika berpikir dan pemecahan masalah,” jelasnya.

 

Adapun Kurikulum Berbasis Cinta merupakan gagasan Kementerian Agama yang menekankan penguatan karakter humanis. Nilai yang ditanamkan mencakup cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, ilmu pengetahuan, lingkungan, serta bangsa dan negara. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#250 Guru Dapat Pembekalan Koding #MI #Penerapan Deep Learning