BATU - Skema distribusi pupuk subsidi di Kota Batu bakal lebih sederhana, menyusul perubahan kebijakan dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Melalui perubahan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 01 Tahun 2024 tentang Penyediaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi, pemerintah memangkas rantai distribusi menjadi lebih singkat.
Yakni dari Kementan RI ke Pupuk Indonesia, lalu ke Pelaku Usaha Distribusi (PUD), dan langsung ke petani. Sebelumnya, alur penyaluran pupuk melibatkan banyak lapisan. Mulai pemerintah provinsi (pemprov) hingga kecamatan (selengkapnya baca grafis). Namun, bagi Kota Batu, perubahan ini tidak membawa dampak drastis.
Pasalnya, sejak awal Kota Batu hanya memiliki satu PUD saja yang berlokasi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. “Sejak dulu Batu hanya punya satu PUD. Jadi tidak banyak berubah,” kata Heru Yulianto, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu.
Di bawah PUD terdapat empat titik salur yang berfungsi seperti kios reguler. Titik-titik itu adalah CV Surya Sejahtera (Kecamatan Batu), Bukit Berlian (Bumiaji), Tani Makmur (Bumiaji), dan Nayaka Agrotama (Junrejo). Saat ini ada satu pengajuan titik salur baru dari Koperasi Desa Pendem (Kelurahan Merah Putih), Kecamatan Junrejo yang masih diproses.
“Jarak antartitik harus dihitung agar tidak mematikan kios yang sudah ada,” ujar Heru. Idealnya, setiap kecamatan memiliki dua hingga tiga titik salur. Namun, penetapannya tetap menyesuaikan jumlah petani dan volume pupuk subsidi. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan usaha kios juga perlu dipertimbangkan.
“Biaya operasional seperti sewa kios dan gaji karyawan harus tetap tertutup. Kalau titik salur kebanyakan, keuntungan bisa hilang,” tambahnya. Untuk Kecamatan Batu, penambahan titik salur dinilai belum mendesak karena pasokan masih dapat ditangani satu kios.
Hal serupa disampaikan Staf Distan-KP Kota Batu Yudha Adi Prabayu. Dia menyebut Kecamatan Bumiaji masih memadai dengan titik salur yang ada. “Yang penting akses petani mudah. Kalau dekat, pengambilannya lebih lancar,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik kios sekaligus penyalur Sulistyowati mengatakan siap mengikuti kebijakan pemerintah. Ia mengelola dua kios yakni Tani Makmur di Bumiaji dan CV Surya Sejahtera di Kecamatan Batu. Sebelumnya, Bumdes) pernah menjadi titik salur. Namun, penyaluran kembali dialihkan ke kiosnya karena sejumlah kendala operasional.
Di sisi petani, skema distribusi yang lebih ringkas dinilai menguntungkan. Suwariono, petani asal Desa Tulungrejo berharap mekanisme pengambilan pupuk melalui gapoktan atau koperasi dapat segera diterapkan.
“Sebab, itu membuat jarak lebih dekat dan bisa membantu petani yang ekonominya sedang seret,” tuturnya. Selama ini, pengambilan pupuk masih dilakukan secara individu sesuai kemampuan petani masing-masing. (dia/dre)
Editor : Aditya Novrian