BATU - Hujan deras yang terus mengguyur Kota Batu sejak beberapa bulan terakhir bukan sekadar anomali cuaca. Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif menjadi pemicu utama meningkatnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Hal ini menjadi tantangan atas potensi gagal panen di tengah cuaca ekstrem.
“Fenomena IOD negatif membuat suhu permukaan laut di timur Samudra Hindia atau sekitar perairan Indonesia lebih hangat dari biasanya. Sebaliknya, di barat Samudra Hindia dekat Afrika Timur justru lebih dingin,” ujar Andang Kurniawan, Staf Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur.
Kondisi itu menyebabkan angin dan uap air bergerak lebih banyak ke arah timur. Hal itu memicu terbentuknya awan hujan di kawasan Indonesia. Dampaknya curah hujan tinggi hampir tidak ada setiap hari. Padahal musim kemarau seharusnya masih berlangsung. “Afrika Timur kekeringan sedangkan Indonesia bagian barat dan tengah justru basah ekstrem,” tambahnya.
Menurutnya, tren ini berbeda dengan dua tahun terakhir. Pada tahun 2023, IOD sempat mendekati positif sehingga hujan cenderung berkurang. Tahun 2024 kembali normal dan 2025 menjadi tahun dengan tingkat curah hujan tertinggi akibat IOD negatif. Anda berasumsi IOD negatif akan bertahan hingga akhir tahun.
Artinya, potensi banjir, longsor, dan panen gagal akan mengintai hingga akhir tahun nanti. Curah hujan tinggi di Kota Batu ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi air tanah menjadi berlimpah sehingga tidak perlu lagi penyiraman rutin. Namun, di sisi lain kelembapan yang tinggi justru menimbulkan masalah seperi jamur, busuk akar, dan busuk buah.
“Tanaman wortel dan sayur-mayur memang tumbuh subur tapi apel dan brokoli banyak yang busuk sebelum panen,” tutur Imam Hanafi, Wakil Ketua Gapoktan Desa Tulungrejo. Ia menyebut hasil panen brokoli menurun drastis hingga lebih dari 50 persen.
Biasanya, petani brokoli bisa panen sampai 8-10 ton per hektar. Namun, kini hanya tersisa sekitar 4 ton saja per hektare. Meski begitu, petani belum banyak beralih dari komoditas utama seperti kentang, wortel, brokoli, dan sawi.
“Kalau hujan, penyemprotan pupuk dan fungisida jadi lebih sering,” kata Imam. Satu hektar lahan kentang kini membutuhkan 20-25 kali penyemprotan per musim tanam. Otomatis biayanya pun melonjak. Harga fungisida Rp125 ribu per kilogram sedangkan kebutuhannya bisa mencapai 50 kilogram per hektare.
Meski biaya meningkat, sebagian petani masih bisa menutup kerugian akibat kenaikan harga wortel dan tomat. Hujan yang terus-menerus memperlambat masa panen di wilayah tetangga seperti di Kecamatan Pujon dan Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
Hal itu membuat pasokan menurun dan harga naik. “Biasanya 90 hari sudah panen bisa. Namun, sekarang panen baru bisa dilakukan setelah 100 120 hari pascatanam,” tambah Imam.
Kondisi cuaca ekstrem mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu mempercepat program revitalisasi pertanian. Salah satunya dengan menyalurkan 100 ton pupuk organik kepada kelompok tani.
“Selain subsidi pupuk dari pemerintah pusat, kami juga memberikan bantuan revitalisasi apel agar tanah tetap subur meski curah hujan tinggi,” kata Heru Yulianto, Kepala Distan-KP Kota Batu.
Dari 26 kelompok tani binaan, 12 di antaranya sudah menerima bantuan. Alokasi terbesar diberikan ke Kecamatan Bumiaji sebagai sentra hortikultura utama. Sementara Kecamatan Batu menerima 25 ton dan Kecamatan Junrejo menerima 30 ton.
Heru berharap dukungan ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan membantu petani beradaptasi dengan pola cuaca baru. “Dengan cuaca yang semakin sulit diprediksi, adaptasi dan efisiensi menjadi kunci,” tutupnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho