Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pohon Tabebuya di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Tak Berbunga

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 8 Oktober 2025 | 16:03 WIB

 

PENGARUH CUACA: Pohon tabebuya di sepanjang Jalan Ksatrian Pusdik Arhanud, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo tak berbunga kemarin (7/10).
PENGARUH CUACA: Pohon tabebuya di sepanjang Jalan Ksatrian Pusdik Arhanud, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo tak berbunga kemarin (7/10).

JUNREJO - Bunga tabebuya di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo tak tampak indah seperti biasanya. Tahun-tahun sebelumnya, bunga itu akan mekar sempurna sepanjang September hingga Oktober. Namun, tahun ini pemandangan ala luar negeri itu sirna. Itu karena sebagian pohon tabebuya tak berbunga sama sekali.

Jalan Ksatrian Pusdik Arhanud tahun lalu masih menjelma bak di Negeri Sakura menjelang akhir tahun seperti sekarang. Nuansa jalanan menjadi warna kuning. Pemandangan itu selalu membuat pengendara yang melintas berdecak kagu. Bahkan tak jarang momen itu dimanfaatkan warga sekitar dan pengguna jalan raya untuk berfoto-foto.

Kepala Desa Pendem Tri Wahyuono Efendi mengakui kondisi bunga tabebuya tahun ini sedikit tidak normal. Idealnya bunga tabebuya mekar 80 persen pada September lalu. Kemudian puncak mekarnya di Oktober ini. “Kenyataannya malah tidak banyak yang mekar bulan ini,” terangnya.

Bahkan, Festival Tabebuya yang digelar beberapa hari lalu pun tanpa pemandangan indah mekarnya bunga dari Amerika Latin itu. Tri menduga penyebabnya adalah cuaca ekstrem yang terjadi di Kota Batu beberapa waktu terakhir. Dia menilai hujan disertai angin kencang menyebabkan bunga tabebuya mengalami kerontokan.

Bunga tabebuya akan mekar ketika daunnya mengering dan rontok. Selain itu, daun baru akan tumbuh. Tri menyayangkan kondisi tersebut. Mengingat mekarnya bunga tabebuya sangat dinantikan banyak orang. Dirinya mengaku tak bisa banyak berbuat apapun. “Fenomena ini baru tahun ini terjadil,” tutupnya.

Kondisi tersebut mendapat atensi dari akademisi. Salah seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Fery Abdul Choliq SP MP mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan bunga tabebuya gagal mekar. Pertama, disebabkan angin kencang yang membuat bunga rontok lebih cepat.

“Kedua faktor curah hujan tinggi juga menyebabkan kerontokan bunga,” paparnya. Intensitas air yang banyak membuat calon bunga rontok dan malah digantikan daun baru. Pada fase itu kondisi kelembaban dan suhu penyinaran tidak optimal untuk mendukung proses pembungaan.

Suhu ideal untuk mendukung pembungaan yakni berkisar 20-30 derajat celcius dengan kelembaban udara sekitar 20 persen. Jika itu tidak tercapai, tanaman akan beralih ke fase vegetatif. Di mana, sebuah tanaman akan lebih mengasilkan banyak daun baru dibandingkan ke fase generatif atau menghasilkan calon bunga baru.

Kendati begitu, dirinya tak menutup kemungkinan bunga tabebuya bisa mekar kembali. “Kalau panas terik selama 15 hari ke depan, kemungkinan bisa berbunga lagi,” pungkas dia. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#Kecamatan Junrejo #bunga tabebuya #Berbunga #tidak