BUMIAJI - Terlepas permasalahan yang muncul dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batu terus berprogres. Salah satunya dengan operasional SPPG yang diselenggarakan pihak swasta di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.
Dapur SPPG milik Yayasan Anak Cerdas Berkualitas Group yang telah beroperasi sejak 15 September lalu kini telah berhasil memproduksi 2.600 porsi MBG per hari. Kepala SPPG Yayasan Anak Cerdas Berkualitas Group, Yuli Ainul Rosita mengatakan 2.600 porsi MBG itu telah disalurkan ke sekolah di tiga desa. Yakni Desa Bulukerto, Desa Bumiaji, dan Desa Pandanrejo.
Dia menyampaikan akan ada satu dapur SPPG lagi yang segera beroperasi untuk menjangkau sekolah yang belum terakomodasi. “Rencanya akan mulai beroperasi pekan depan,” ungkapnya. Ada sebanyak 2.621 siswa yang terdata sebagai penerima MBG dari SPPG Yayasan Anak Cerdas Berkualitas Group. Terdiri atas 580 siswa TK dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 1.209 siswa SD, 61 siswa SMP, 666 siswa SMA, dan 121 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Kami sudah menyasar 32 sekolah,” bebernya. Kendati begitu, produksi harian paket MBG fluktuatif. Menyesuaikan jumlah siswa yang hadir pada hari H. Sebab, ada siswa yang kemudian dilaporkan tidak masuk sekolah karena sakit atau izin. Selain itu, ada pula yang sedang mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau outing class.
Data presensi di-update setiap hari oleh koordinator setiap sekolah. Data presensi tersebut nantinya akan digunakan sebagai basis perhitungan jumlah produksi dan distribusi porsi MBG ke sekolah-sekolah. Wanita asli Desa Bulukerto itu membeberkan waktu pengiriman paket MBG dibagi menjadi dua gelombang.
Pengiriman pada gelombang pertama dilakukan pukul 07.30 untuk jenjang TK, SD, dan SMP. Sedangkan untuk jenjang SMA dilakukan pukul 10.00. Setiap hari menu MBG berganti-ganti. Yang jelas tetap memerhatikan nilai gizi yang terkandung. Setiap dapur SPPG memiliki satu ahli gizi untuk memastikan hal itu.
“Sebab, informasi kandungan gizi MBG juga akan disampaikan kepada penerima manfaat,” tegasnya. Evaluasi terus dilakukan. Khususnya untuk menyajikan menu yang paling banyak disukai anak-anak. Itu dilihat dari sisa makanan yang ada di ompreng siswa. Beruntung, sejauh ini belum ada yang mengeluhkan alergi atau tidak cocok terhadap menu makanan.
Untuk memaksimalkan dapur SPPG, Yuli akan menambah jumlah penerima manfaat sekitar 600 siswa. Itu menyasar beberapa sekolah yang berada di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. “Kalau semua sekolah sudah terakomodasi, kami akan memperluas sasaran kepada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B),” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho