Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Fokus Mitigasi Struktural dan Nonstruktural, BPBD Kota Batu Kuatkan Kapasitas SDM Hadapi Potensi Bencana di Kota Batu

A. Nugroho • Minggu, 21 September 2025 | 21:57 WIB
BPBD Kota Batu gencar memperkuat kapasitas SDM melalui mitigasi struktural dan nonstruktural, demi menghadapi potensi bencana di wilayah rawan.
BPBD Kota Batu gencar memperkuat kapasitas SDM melalui mitigasi struktural dan nonstruktural, demi menghadapi potensi bencana di wilayah rawan.
Mitigasi
Mitigasi

BATU – Ada dua upaya mitigasi yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu dalam menghadapi peningkatan jumlah kejadian bencana sepanjang tahun ini. Yakni mitigasi struktural dan nonstruktural. Bahkan, sudah ada mapping dan timeline realisasi mitigasi tersebut yang berjalan sejak Mei hingga November mendatang.

Mitigasi struktural merupakan upaya pencegahan yang fokus terhadap pembangunan fisik dan infrastruktur untuk mengurangi dampak bencana. Sedangkan mitigasi nonstruktural adalah upaya pencegahan berbasis kebijakan, peraturan, pendidikan, dan penataan ruang nonfisik untuk meningkatkan kesadaran serta kesiapan masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho, mengatakan mitigasi nonstruktural sudah lebih dulu berjalan. Sosialisasi dilakukan ke berbagai kelompok masyarakat sejak Mei lalu. Fokus pemahaman yang diberikan adalah cara mengenali potensi ancaman di wilayah masing-masing.

“Sosialisasi juga menyasar sekolah-sekolah. Salah satunya melalui program satuan pendidikan aman bencana untuk guru Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Indonesia (HIMPAUDI),” jelasnya. Program itu juga melibatkan siswa, guru, dan anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR).

Selain itu, mitigasi nonstruktural juga menyasar perangkat desa dan kelurahan melalui Disaster Forum Academy (DIFA) pada bulan Juni lalu. Mereka mendapat pelatihan peningkatan kapasitas menghadapi ancaman bencana di Coban Putri selama dua hari. Gatot menegaskan, masyarakat harus bisa menjadi pionir penanggulangan bencana.

Pada akhir Juli–Agustus, sosialisasi juga diberikan kepada kelompok rentan. Misalnya melalui Bocah Tangguh Bencana (Botuna) serta relawan disabilitas. Sementara mitigasi struktural dilakukan dengan kegiatan susur sungai yang difokuskan di Kecamatan Bumiaji. Kawasan ini dinilai paling rawan sejak banjir bandang November 2021 lalu akibat penyumbatan sampah di aliran sungai dari hutan.

“Ada lima titik lokasi yang menjadi fokus susur sungai saat ini,” terang Gatot. Lokasi tersebut antara lain aliran Sungai Jurang Susuh, Sengonan, Curah Krecek, Pusung Lading, dan Glagah Wangi. Pembersihan dilakukan tim gabungan dari relawan taman hutan raya (tahura), Perhutani, linmas, dan warga.

Sinergi itu juga bertujuan memetakan titik potensi bencana, khususnya lokasi yang rawan pohon tumbang dan tanah longsor yang menyebabkan aliran sungai tidak maksimal. Sejauh ini, ada 119 titik pembersihan. “Jumlah titik bisa bertambah seiring laporan dari masyarakat juga,” paparnya.

Meski demikian, Gatot menyebut target penyelesaian susur sungai sedikit meleset tahun ini. Alasannya karena cuaca tidak menentu sehingga upaya mitigasi terkendala. “Berbeda dengan tahun lalu yang on track sesuai rencana karena cuaca mendukung. Tahun ini, penyelesaian diperkirakan baru tuntas Oktober mendatang,” jelasnya.

Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kota Batu, Eko Prasetyo Kurniawan, mengatakan pembersihan difokuskan pada aliran dalam hutan. Misalnya dengan membersihkan sampah serta pohon tumbang akibat kebakaran. “Untuk kayu atau bambu kami potong sepanjang 30 cm atau maksimal 50 cm,” ujarnya.

Dalam proses pembersihan, BPBD menerjunkan 30 personel. Jumlah itu belum termasuk relawan lain. Satu ruas sungai setidaknya memerlukan waktu satu minggu. “Proses pembersihannya memakan waktu 1–2 jam per hari, bergantung tingkat kesulitan medan,” kata Eko.

Namun, pembersihan juga menemui kendala. Misalnya pohon yang baru tumbang akibat angin kencang. Karena itu, tim rutin melakukan pengecekan berkala agar aliran sungai tidak tersumbat lagi. “Akhirnya kami juga mengedepankan skala prioritas, mana keadaan yang paling darurat,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#mitigasi #kota batu #BPBD