BATU - Pada 2023 pelaku usaha hotel dan wisata menggandeng petani apel untuk menyelamatkan eksistensinya.
Mereka bekerja sama menjalankan program satu tiket satu apel.
Sayangnya, kerja sama itu tak berjalan lama.
Pada 2024 lalu kolaborasi itu sudah tidak berjalan lagi.
Kini petani apel berharap program itu bisa dijalankan kembali.
Direktur Taman Rekreasi Selecta Sujud Hariadi membenarkan hal itu.
Dulu dia merupakan salah satu orang yang turut menjalankan program tersebut.
Tujuannya untuk menjaga kestabilan harga apel ditingkat petani.
Namun, para petani tak lagi memasok kebutuhan apel di tempatnya.
Itu seiring naiknya pamor wisata petik apel di Kota Batu.
“Saat itu apel yang kami ambil dari petani kami bagikan kepada pengunjung secara gratis. Satu pengunjung akan mendapat satu apel,” ucapnya.
Sayangnya, petani apel memilih memanfaatkan produksi apelnya untuk wisata petik buah.
Sebab, petani tak perlu mengeluarkan biaya operasional panen dan pengiriman.
Berbeda kalau harus dikirimkan ke hotel dan sejumlah objek wisata.
Mereka juga lebih tertarik menjual secara borongan.
Itu membuat petani mendapatkan keuntungan yang instan.
Meski begitu, Sujud mengaku selalu mematok apel dengan harga yang relatif tetap.
“Kami beli Rp 10 ribu per kilogramnya saat itu,” ungkapnya.
Ya, harga beli tersebut termasuk saat harga apel di pasaran sedang jatuh.
Bahkan, Sujud menyampaikan salah satu hotel berani membeli dengan harga di atas itu.
Namun, dia mengaku masih membuka kesempatan bagi petani apel untuk menjalin kerja sama itu lagi.
Yang penting kualitas apelnya bagus.
Salah seorang petani apel asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Utomo berharap program itu bisa berjalan lagi.
Apalagi saat ini harga apel sedang tak bersahabat.
Yakni hanya berkisar Rp 6-6,5 ribu per kilogram.
”Kalau bisa dilalukan di Selecta dan Jatimpark sudah sangat lumayan dan membantu kami,” pungkasnya. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana