Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Agroklimat Kota Batu Dilirik untuk Smart Farming

R
DIBIDIK NAIK KELAS: Salah seorang petani di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji beraktivitas di kebun beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
DIBIDIK NAIK KELAS: Salah seorang petani di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji beraktivitas di kebun beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

Advertisement

BATU, RADAR BATU – Kondisi agroklimat Kota Batu dinilai berpotensi mendukung pengembangan hortikultura premium. Potensi tersebut menjadi salah satu modal Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dalam menyiapkan kawasan Smart Integrated Farming (SIF) di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji.

Di atas lahan seluas 2,59 hektare, program tersebut dirancang untuk mengembangkan pertanian modern yang mengintegrasikan hortikultura, perikanan, dan peternakan. Namun, potensi alam yang mendukung budi daya belum otomatis menjamin keuntungan petani. Kepastian pasar masih menjadi persoalan yang perlu dijawab.

Advertisement

Ketua Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) Kota Batu Rakhmad Hardiyanto mengatakan, sejumlah komoditas premium berpotensi dikembangkan di Kota Batu. Di antaranya tomat beef, green romaine, dan selada.

Menurut dia, teknologi pertanian yang diterapkan tidak harus rumit atau sulit dikuasai petani lokal. Praktik budi daya yang dipelajari dari daerah lain dinilai dapat diadaptasi sesuai kondisi dan kemampuan petani di Kota Batu.

Advertisement

“Teknologi yang digunakan tidak harus rumit atau sulit dikuasai petani lokal. Yang di Semarang kemarin itu memungkinkan kita untuk bisa menjalankan praktik-praktik yang mereka lakukan,” ujarnya.

Pemkot Batu sebelumnya melakukan studi tiru ke Jawa Tengah. Lokasi yang dikunjungi meliputi greenhouse sayuran hidroponik dan melon premium di Kota Salatiga serta Kebun Keraton di Desa Sugihan, Kabupaten Semarang. Kedua lokasi itu merupakan mitra binaan CV Tirta Fertindo Pratama.

Studi tersebut menjadi bagian dari persiapan pengembangan SIF yang tidak hanya menyentuh proses budi daya, tetapi juga penyediaan benih, pendampingan teknis, dan pemasaran hasil panen.

Di Giripurno, komoditas yang direncanakan meliputi tomat beef, selada merah, paprika, dan stroberi. Sementara itu, cabai rawit, wortel, serta bunga kol disiapkan untuk budi daya di lahan terbuka.

Kawasan tersebut juga dirancang mengintegrasikan budi daya ikan nila dan peternakan ayam petelur. Konsep zero wasteatau minim limbah akan diterapkan dengan memanfaatkan hasil samping dari satu subsektor untuk mendukung subsektor lainnya.

Pemkot juga menggandeng akademisi Universitas Brawijaya (UB) untuk mendukung penggunaan teknologi Internet of Things (IoT). Penerapan teknologi diharapkan membantu pengelolaan produksi secara lebih terukur.

Advertisement

Artikel Terkait

Smart Integrated Farming Giripurno Dorong Hilirisasi

Smart Integrated Farming Giripurno Dorong Hilirisasi

Smart Integrated Farming Giripurno dorong hilirisasi dan olah limbah sayur jadi produk ekonomi.

Smart Integrated Farming Kota Batu Bidik Pasar Horeka, Produksi Pertanian Disesuaikan Permintaan

Smart Integrated Farming Kota Batu Bidik Pasar Horeka, Produksi Pertanian Disesuaikan Permintaan

Smart Integrated Farming Kota Batu sasar pasar Horeka lewat sistem rantai pasok berbasis pasar.

Ekspansi Smart Integrated Farming Kota Batu Dimulai 2027

Ekspansi Smart Integrated Farming Kota Batu Dimulai 2027

Pemkot Batu siapkan ekspansi Smart Integrated Farming secara bertahap hingga 2030.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer