Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Smart Farming Giripurno Kota Batu Integrasikan Tiga Subsektor

R
DIBIDIK NAIK KELAS: Salah seorang petani di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji beraktivitas di kebun beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
DIBIDIK NAIK KELAS: Salah seorang petani di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji beraktivitas di kebun beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

Advertisement

BATU, RADAR BATU – Smart Integrated Farming (SIF) di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, dirancang sebagai sistem pertanian terpadu yang menggabungkan hortikultura, perikanan, dan peternakan. Program yang disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu di atas lahan seluas 2,59 hektare tersebut mengusung konsep zero waste atau minim limbah.

Melalui konsep itu, kegiatan pertanian tidak berdiri sendiri. Limbah dari satu subsektor direncanakan dapat dimanfaatkan untuk mendukung subsektor lain. Tujuannya menekan limbah, meningkatkan efisiensi, serta membangun proses produksi yang saling terhubung.

Advertisement

Pada subsektor hortikultura, sejumlah komoditas yang disiapkan meliputi tomat beef, selada merah, paprika, dan stroberi. Adapun cabai rawit, wortel, serta bunga kol direncanakan ditanam di lahan terbuka.

Kegiatan tersebut akan dipadukan dengan budi daya ikan nila dan peternakan ayam petelur. Pemkot Batu juga menggandeng akademisi Universitas Brawijaya (UB) untuk mendukung penerapan teknologi Internet of Things (IoT).

Advertisement

Teknologi tersebut diharapkan membantu pengelolaan pertanian secara lebih terukur. Meski demikian, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan petani agar tidak menjadi beban operasional baru.

Wali Kota Batu Nurochman menyampaikan, pengembangan SIF didahului studi tiru ke sejumlah lokasi pertanian modern di Jawa Tengah. Rombongan mengunjungi greenhouse sayuran hidroponik dan melon premium di Kota Salatiga serta Kebun Keraton di Desa Sugihan, Kabupaten Semarang.

Kedua lokasi itu merupakan mitra binaan CV Tirta Fertindo Pratama. Dari kunjungan tersebut, Pemkot mempelajari pengelolaan pertanian dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan benih, budi daya, pendampingan teknis, sampai pemasaran.

Ketua Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) Kota Batu Rakhmad Hardiyanto menilai, model pertanian tersebut memungkinkan diterapkan di Kota Batu. Menurut dia, teknologi yang digunakan tidak harus kompleks dan sulit dikuasai petani.

Ia juga menilai kondisi agroklimat Kota Batu mendukung pengembangan sejumlah komoditas hortikultura premium, seperti tomat beef, green romaine, dan selada.

Namun, sistem pertanian terpadu tidak hanya membutuhkan kesesuaian lahan dan teknologi.

Advertisement

Artikel Terkait

Smart Integrated Farming Giripurno Dorong Hilirisasi

Smart Integrated Farming Giripurno Dorong Hilirisasi

Smart Integrated Farming Giripurno dorong hilirisasi dan olah limbah sayur jadi produk ekonomi.

Smart Integrated Farming Kota Batu Bidik Pasar Horeka, Produksi Pertanian Disesuaikan Permintaan

Smart Integrated Farming Kota Batu Bidik Pasar Horeka, Produksi Pertanian Disesuaikan Permintaan

Smart Integrated Farming Kota Batu sasar pasar Horeka lewat sistem rantai pasok berbasis pasar.

Ekspansi Smart Integrated Farming Kota Batu Dimulai 2027

Ekspansi Smart Integrated Farming Kota Batu Dimulai 2027

Pemkot Batu siapkan ekspansi Smart Integrated Farming secara bertahap hingga 2030.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer