BATU - Suasana di Balai Kota Among Tani mendadak mencekam kemarin (11/11). Dentuman keras disusul getaran hebat membuat pegawai dan pengunjung Mal Pelayanan Publik (MPP) berhamburan keluar. Sebagian berlindung di bawah meja, sebagian lagi mengevakuasi diri ke titik aman.
Namun, kepanikan itu bukan kejadian nyata. Melainkan bagian dari simulasi gempa bumi yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu.
Simulasi tersebut menjadi puncak kegiatan Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi 2025.
Latihan melibatkan ratusan personel dari berbagai instansi. Mulai PMI, PSC, Damkarmat, Tagana, hingga relawan bencana. Dalam simulasi itu, petugas mengevakuasi korban yang terjebak di lantai tiga menggunakan truk tangga udara. Selain itu, petugas juga mendirikan tenda darurat dan memasang safety line di area berisiko roboh.
“Ini bagian dari upaya memastikan kesiapan semua unsur saat bencana benar-benar terjadi,” ujar Suwoko, Plt Kepala BPBD Kota Batu. Menurutnya, latihan lapangan seperti ini tidak hanya bersifat seremonial.Melainkan untuk menguji kecepatan, koordinasi, dan ketanggapan tim dalam kondisi darurat. Apalagi sekarang potensi bencana meningkat signifikan.
Suwoko menyampaikan jumlah kejadian bencana di Kota Batu meningkat dari 122 kasus pada 2024 menjadi 149 kasus pada 2025. Terdiri atas 57 persen tanah longsor, 25 persen angin kencang, 11 persen banjir, serta 7 persen kebakaran hutan dan lahan. Tahun sebelumnya, 86 persen bencana tergolong hidrometeorologi.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan enam jenis bencana yang rawan terjadi selama curah hujan tinggi. Yakni tanah longsor, banjir, gempa bumi, cuaca ekstrem, kebakaran hutan-lahan, dan bencana biologis. “Karena itu kami memperkuat sinergi pentahelix agar kesiapsiagaan tidak hanya di level kota, tapi juga desa,” ujarnya.
Cak Nur mengaku telah memetakan seluruh daerah rawan bencana dan mengaktifkan kembali posko siaga di kelurahan dan desa. Tahun ini, BPBD telah menuntaskan susur sungai di 94 titik untuk mitigasi banjir bandang di lima aliran utama. Di antaranya Jurang Susuh, Sengonan, Curah Krecek, Pusung Lading, dan Glagah Wangi.
Sebagai informasi, BPBD mempunyai Program Bocah Tangguh Bencana (Botuna) untuk sekolah-sekolah dan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang terus diperluas melalui Disaster Forum Academy (DIFA). Tujuan akhirnya yakni membangun budaya tangguh bencana. Sehingga warga tidak panik dan tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho