
BATU, RADAR BATU - Ancaman banjir membayangi wilayah Malang Raya setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang. Hujan perdana yang mengguyur Kota Batu pada 24 Oktober lalu menjadi perhatian. Sebab, tutupan vegetasi di sejumlah area terdampak kebakaran mengalami kerusakan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menyebut, luas area terdampak kebakaran di kompleks Gunung Arjuno-Welirang mencapai 1.090 hektare. Sementara di wilayah Kota Batu, lahan yang terbakar tercatat sekitar 25 hektare. Selain itu, ditemukan 11 titik panas baru di Kecamatan Bumiaji.
Baca Juga: Adakan Mini Tour, JKT48 akan Mampir ke 5 Daerah di Indonesia dari Oktober hingga Desember
Kondisi tersebut membutuhkan penanganan cepat untuk mengantisipasi risiko lanjutan saat intensitas hujan meningkat. Kerusakan tutupan vegetasi di kawasan tangkapan air berpotensi meningkatkan limpasan air permukaan. Risiko ini perlu diwaspadai karena Kota Batu berada di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Namun, besarnya potensi banjir juga bergantung pada intensitas hujan, kondisi tanah, kemiringan lereng, dan kapasitas aliran sungai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur berlangsung bertahap mulai November hingga Desember 2026.
Baca Juga: Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Berhasil Tembus 1 Juta Penonton Bioskop di Hari Tayang Ke-17
Hujan yang lebih awal mengguyur Batu menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Pemprov Jawa Timur bersama Pemkot Batu menyiapkan langkah mitigasi di sejumlah titik rawan. Upaya yang disiapkan antara lain membersihkan alur sungai dan drainase dari material yang berpotensi menghambat aliran air.
Selain itu, juga pemeriksaan infrastruktur pengendali air bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Wali Kota Batu Nurochman mengaku telah menindaklanjuti arahan pemerintah pusat dan provinsi melalui koordinasi lintas sektor. “Sinergi lintas sektor yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, hingga elemen masyarakat terus dikerahkan guna memastikan keselamatan warga di zona merah,” tegasnya.

