Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Setelah Karhutla, Ancaman Banjir Mengintai Kota Batu

R
HADAPI HIDROMOTEOROGI: Musim hujan mengguyur kawasan Kota Batu beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
HADAPI HIDROMOTEOROGI: Musim hujan mengguyur kawasan Kota Batu beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

Advertisement

BATU, RADAR BATU - Ancaman banjir membayangi wilayah Malang Raya setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang. Hujan perdana yang mengguyur Kota Batu pada 24 Oktober lalu menjadi perhatian. Sebab, tutupan vegetasi di sejumlah area terdampak kebakaran mengalami kerusakan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menyebut, luas area terdampak kebakaran di kompleks Gunung Arjuno-Welirang mencapai 1.090 hektare. Sementara di wilayah Kota Batu, lahan yang terbakar tercatat sekitar 25 hektare. Selain itu, ditemukan 11 titik panas baru di Kecamatan Bumiaji.

Advertisement

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan cepat untuk mengantisipasi risiko lanjutan saat intensitas hujan meningkat. Kerusakan tutupan vegetasi di kawasan tangkapan air berpotensi meningkatkan limpasan air permukaan. Risiko ini perlu diwaspadai karena Kota Batu berada di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Namun, besarnya potensi banjir juga bergantung pada intensitas hujan, kondisi tanah, kemiringan lereng, dan kapasitas aliran sungai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur berlangsung bertahap mulai November hingga Desember 2026.

Advertisement

Hujan yang lebih awal mengguyur Batu menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Pemprov Jawa Timur bersama Pemkot Batu menyiapkan langkah mitigasi di sejumlah titik rawan. Upaya yang disiapkan antara lain membersihkan alur sungai dan drainase dari material yang berpotensi menghambat aliran air.

Selain itu, juga pemeriksaan infrastruktur pengendali air bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Wali Kota Batu Nurochman mengaku telah menindaklanjuti arahan pemerintah pusat dan provinsi melalui koordinasi lintas sektor. “Sinergi lintas sektor yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, hingga elemen masyarakat terus dikerahkan guna memastikan keselamatan warga di zona merah,” tegasnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Angin Kencang di Kota Batu Rusak 30 Bangunan

Angin Kencang di Kota Batu Rusak 30 Bangunan

Cuaca ekstrem sepanjang 2026 rusak 30 bangunan di Kota Batu, BPBD imbau kewaspadaan angin kencang.

Empat Desa di Kota Batu Rawan Longsor saat Musim Hujan

Empat Desa di Kota Batu Rawan Longsor saat Musim Hujan

BPBD Kota Batu soroti empat desa rawan longsor menjelang musim hujan dan imbau penguatan vegetasi.

106 Bencana Hidrometeorologi Terjadi di Kota Batu

106 Bencana Hidrometeorologi Terjadi di Kota Batu

BPBD Kota Batu catat 106 bencana hidrometeorologi hingga Oktober 2026, didominasi 49 kejadian tanah longsor.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer