Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

3 SMP Negeri di Kota Batu Sepi Peminat, Belum Penuhi Kuota SPMB

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 12 Juni 2025 | 16:47 WIB
SPMB SMP negeri di kota batu 2025.
SPMB SMP negeri di kota batu 2025.

BATU - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMP negeri di Kota Batu telah selesai 2 Juni lalu. Itu ditandai dengan pengumuman hasil seleksi di lima jalur masuk yang dibuka. Sayangnya, ada tiga SMP negeri yang pagu murid barunya belum terpenuhi.

Yakni SMPN 5 Batu, SMPN Satu Atap (Satap) Pesanggrahan 2, dan SMPN Satap Gunungsari 04. Tiga sekolah tersebut gagal memenuhi pagu lantaran minim peminat. Lokasi yang jauh dari permukiman padat penduduk menjadi alasan.

Kepala SMPN Satap Gunungsari 04 Dwi Lisman Putra mengaku hanya membuka satu rombongan belajar (rombel) saja. Itu pun kuotanya hanya 25 siswa saja. Padahal pagu ideal setiap rombel sebanyak 32 siswa.

Itu karena sarana dan prasarana di sekolah tersebut kurang memadai. Sehingga, Lisman mengaku menetapkan kuota siswa baru dengan menyesuaikan kapasitas ruangan dan kondisi yang ada. “Kami buka 25 kuota saja hanya terisi 17 siswa,” ujarnya.

Terdiri atas 13 siswa dari jalur domisili, 3 siswa dari jalur afirmasi, dan 1 siswa dari jalur mutasi. Jumlah siswa baru yang diterima tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun lalu. Pada 2024 kemarin, SMPN Satap Gunungsari 04 hanya menerima 18 siswa saja.

“Maklum lokasinya jauh sehingga jarang ada siswa dari jalur prestasi yang mendaftar ke sini,” ujarnya. Meski secara formal SPMB SMP negeri di Kota Batu sudah ditutup, Lisma mengaku masih akan menerima jika ada pendaftar susulan.

Namun, bila tidak ada, Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) pada tahun ajaran 2025/2026 mendatang tetap akan berjalan normal seperti seharusnya. Dia berharap sebelum tahun ajaran baru dimulai ada tambahan siswa baru yang bergabung.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Chori mengatakan pagu siswa baru di 9 SMP negeri Kota Batu sebanyak 1.643. Pagu tersebut kemudian dialokasikan 40 persen untuk jalur domisili, 35 persen untuk jalur prestasi, dan 20 persen untuk jalur afirmasi.

“Yang 5 persen untuk jalur mutasi atau perpindahan tugas orang tua,” ujarnya. Dari pagu tersebut hanya ada 1.619 siswa baru saja yang diterima melalui SPMB. Dia menegaskan kekosongan pagu yang ada bukan murni karena tertolak atau tidak lolos seleksi.

Melainkan memang ada beberapa sekolah yang minim peminat. Secara umum, masih kata Chori, tren penerimaan murid baru masih sama seperti tahun lalu. Hanya dua jalur saja yang menyedot animo paling tinggi. Yakni jalur domisili dan jalur afirmasi.

Sehingga, wajar bila dua jalur tersebut selalu penuh. Chori menjelaskan skema penerimaan di jalur domisili masih tetap menggunakan kuota per RW. Sehingga sebaran penerimaannya lebih merata.

Dari hasil seleksi jalur domisili beberapa waktu lalu, jarak terdekatnya yakni 70 meter. Sedangkan, yang paling jauh yakni 3 kilometer dari sekolah. Dia memastikan semua lulusan SD di tiap RW punya akses yang sama untuk mendaftar melalui jalur domisili.

Tahun ini juga diterapkan Uji Kendali Mutu (UKM) perdana sebagai pertimbangan seleksi di jalur prestasi akademik. Sehingga, penentuan kelulusannya tidak hanya berbasis nilai rapor saja. Namun, juga berdasarkan hasil UKM yang digelar di sekolah tujuan masing-masing.

Hasilnya, tertinggi diraih siswa baru di SMP Negeri 1 Batu dengan skor 84,42. Sementara, skor terendahnya yakni 34,37. “Persaingannya cukup ketat. Dari ratusan siswa yang mendaftar di setiap sekolah hanya puluhan saja yang diterima,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#spmb #smp #sepi peminat #KBM