
MALANG KOTA - Di tengah ramainya aktivitas warga di Alun-Alun Kota Malang, suasana berbeda tampak di salah satu sudut taman. Sejumlah anak muda duduk melingkar, larut dalam buku yang mereka baca. Aktivitas ini menjadi bagian dari gerakan literasi komunitas Duduk Baca.
Komunitas yang telah konsisten berjalan selama dua tahun ini menghadirkan konsep perpustakaan terbuka. Siapa pun bebas singgah, membaca, hingga berdiskusi tanpa dipungut biaya. Setiap Minggu pagi, pelataran alun-alun disulap menjadi ruang interaksi lintas latar belakang.
Tak sekadar membaca, Duduk Baca juga menjadi wadah diskusi santai yang cair dan inklusif. Volunteer Duduk Baca Ardiansyah Vios menyebut, rata-rata peserta yang hadir berkisar 20 hingga 30 orang setiap pertemuan. Jumlah itu bisa meningkat saat kegiatan dikemas dengan tema khusus.
“Kalau temanya menarik, biasanya yang datang lebih banyak,” ujarnya. Namun, kegiatan ini bukan tanpa tantangan. Faktor cuaca menjadi kendala utama. Hujan yang turun tiba-tiba kerap memaksa mereka menghentikan aktivitas dan mencari tempat berteduh agar buku tidak rusak.
Meski dengan keterbatasan fasilitas, komunitas ini tetap berkomitmen menjaga ruang literasi tetap hidup di ruang publik. Salah satu peserta Akmal mengaku kegiatan ini menjadi alternatif positif di tengah rutinitas kampus yang padat. “Membaca bareng seperti ini bikin pikiran lebih fresh, apalagi bisa diskusi dengan orang baru,” tandasnya.



