Muhadjir Effendy Tekankan Kampus sebagai Ruang Antropologi Pengetahuan

JUNREJO, RADAR BATU - Peran kampus tak cukup sebagai ruang belajar formal. Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya gagasan dan pengembangan cara berpikir kritis mahasiswa. Pesan itu disampaikan Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Muhadjir Effendy saat kunjungan ke Kampus III Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kemarin (31/3).
Dalam forum bertajuk Penguatan Mental Spiritual Kampus Islam Bereputasi Global, ia menegaskan kampus merupakan lahan antropologi pengetahuan. Artinya, ruang untuk mengkaji bagaimana pengetahuan berkembang dalam konteks sosial dan budaya.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak boleh terjebak pada pembangunan fisik semata. Fokus utama harus pada penguatan kapasitas intelektual mahasiswa. “Mahasiswa harus mampu berbicara, menulis, dan menguasai bahasa, baik Indonesia maupun asing,” ujarnya.
Ia menilai kampus perlu menjadi ruang pertukaran ide yang hidup. Lingkungan akademik harus mendorong kajian ilmiah yang mampu membentuk cara pandang kritis terhadap realitas sosial.
Dalam pemaparannya, Muhadjir mengutip gagasan Michael M. J. Fischer tentang anthropology of knowledge. Pendekatan ini melihat perkembangan pengetahuan melalui etnografi, kajian sains dan teknologi, hingga pengaruh postmodernisme.
Konsep tersebut dinilai relevan diterapkan di perguruan tinggi. Tujuannya, agar mahasiswa mampu memahami dinamika masyarakat secara komprehensif. Ia juga mengingatkan ambisi menjadi kampus berkelas dunia tidak boleh ditempuh secara instan.
BACA JUGA: Pemkot Batu Siapkan Skema WFH Bergilir
Status global, menurutnya, akan mengikuti jika kualitas pendidikan dibangun dengan arah yang tepat. Di sisi lain, nilai-nilai ke-Islaman diminta tetap menjadi fondasi utama. Hal ini penting di tengah arus globalisasi dan sekularisasi yang kian kuat.



