
BATU, RADAR BATU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Reuters melaporkan pada Selasa (27/10/2026), pemerintah mengerahkan bus yang dilengkapi fasilitas oksigen di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk membantu warga yang mengalami kesulitan bernapas akibat kabut asap.
Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 350.000 kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran secara nasional pada periode Agustus hingga 25 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 31.000 kasus dilaporkan di Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Prabowo Belum Tetapkan Karhutla Jadi Bencana Nasional, Ini Alasannya
Sementara itu, kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan memburuk. Indeks polusi udara bahkan melampaui angka 1.000 di beberapa lokasi, jauh di atas ambang 300 yang masuk kategori berbahaya menurut laporan tersebut.
Paparan asap kebakaran dapat memperburuk kondisi pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat, menggunakan masker yang sesuai seperti N95 atau KN95, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Apabila mengalami sesak napas atau keluhan yang semakin berat, warga perlu segera mencari pertolongan medis.
Penanganan karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat menjadi penting untuk mengurangi dampak kabut asap yang terus mengancam kehidupan warga.



