Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Curhat ke ChatGPT? Nyaman tapi Berisiko, Ini Fakta Psikologis yang Mengejutkan!

A. Nugroho • Selasa, 6 Mei 2025 | 21:50 WIB

Ilustrasi mengobrol dengan Chat-GPT (frimufilms/freepik.com).
Ilustrasi mengobrol dengan Chat-GPT (frimufilms/freepik.com).

RADAR BATU - Ketika beban hidup terasa menghimpit, sebagian orang biasanya mencari bahu sahabat atau keluarga untuk bersandar. Namun kini, tren tersebut mulai berubah. Banyak orang, terutama generasi muda, lebih memilih curhat ke chatbot seperti Chat GPT dibanding manusia. Aneh? Mungkin. Tapi fenomena ini nyata, bahkan kian meluas. Apa sebenarnya yang membuat curhat ke AI terasa lebih nyaman, dan apakah ada risiko tersembunyi di baliknya?

Menurut studi terbaru yang dipublikasikan oleh Applied Psychology: Health and Well-Being pada 2024, sebanyak 78% responden mengaku merasa lebih lega setelah mencurahkan isi hati mereka ke AI. Alasan utamanya: tidak ada rasa takut dihakimi, tidak ada kecanggungan, dan selalu mendapat respons yang terdengar suportif. ChatGPT, misalnya, dirancang untuk memberi validasi emosional, “Saya memahami perasaan Anda”, tanpa mencela atau mengkritik. Interaksi ini memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa nyaman, layaknya berbicara dengan teman baik.

Baca Juga: Tiangong Ultra: Robot Humanoid Pertama yang Sukses Menyelesaikan Setengah Marathon di Beijing

Tak hanya itu, AI juga menawarkan ketersediaan tanpa batas waktu. Siang atau malam, Chat GPT siap mendengarkan. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama bagi mereka yang merasa tidak punya siapa-siapa, atau sedang terjebak dalam kesepian akut. Studi dari OpenAI dan MIT pada 2025 mencatat bahwa 65% pengguna merasa AI lebih responsif dibanding orang terdekat mereka.

Namun di balik kenyamanan itu, para ahli mengingatkan adanya sisi gelap yang tak boleh diabaikan. ChatGPT memang “ramah”, tapi ia bukan manusia. Ia tak memiliki empati sejati atau nilai moral yang mampu menantang pikiran negatif seseorang. Ada risiko besar ketika AI selalu “mengerti” dan “mendukung” tanpa menyaring benar-salahnya. Misalnya, seseorang yang menceritakan keinginan untuk membalas dendam bisa saja mendapat respons netral yang tidak mengoreksi pikiran berbahaya tersebut. Hal ini berpotensi memperkuat bias kognitif atau bahkan mendorong tindakan impulsif.

Baca Juga: Duolingo Akan Gantikan Pekerja Kontrak dengan AI, Keputusan Ini Picu Pro dan Kontra

Ketergantungan pada AI juga berisiko memicu isolasi sosial, terutama pada remaja dan individu dengan kecemasan sosial tinggi. Penelitian Frontiers in Psychology (2025) menunjukkan lonjakan 34% dalam perasaan terasing di kalangan pengguna aktif chatbot. Ironisnya, semakin mereka curhat ke AI, semakin menjauh pula mereka dari koneksi manusia yang nyata.

Belum lagi isu privasi yang mengintai. Data percakapan curhat, jika tidak dikelola dengan aman, bisa menjadi sasaran peretasan atau penyalahgunaan. AI memang canggih, tetapi bukan tempat paling aman untuk membuka luka terdalam.

Baca Juga: Pertama di Dunia! Tiongkok Resmi Buka Rumah Sakit AI Tanpa Dokter Manusia

Di tengah maraknya aplikasi "AI girlfriend" atau "AI therapist" yang kini menjamur dan naik hingga 200% sejak 2023, para psikolog dari American Psychological Association (APA) memperingatkan bahwa AI seharusnya bukan solusi utama dalam menghadapi krisis emosional. Ia bisa menjadi alat bantu awal, namun tidak boleh menjadi pengganti hubungan manusia yang otentik.

"AI bisa menjadi teman pendengar," ujar Dr. Michael Holohan dari MIT, "tapi hanya manusia yang mampu memberi empati sejati."

Fenomena curhat ke ChatGPT adalah cerminan perubahan cara manusia mencari dukungan emosional di era digital. Nyaman? Jelas. Tapi seperti pisau bermata dua, kenyamanan itu harus diimbangi dengan kewaspadaan. Jangan sampai kehangatan palsu dari mesin membuat kita lupa bagaimana rasanya didengar oleh sesama manusia yang sungguh peduli. (my)

Editor : A. Nugroho
#Chat GPT #psikologi #kesehatan mental #Gen Z #curhat dengan ChatGPT #teknologi modern