
MALANG KOTA - Dinamika kehidupan kampus di Kota Malang kian memanas. Gesekan antara mahasiswa aktivis organisasi dan nonorganisasi mulai terasa, bahkan merambah ke ranah emosional. Fenomena ini banyak ditemukan pada organisasi ekstra kampus yang memiliki afiliasi tertentu.
Pola kaderisasi yang dilakukan sejak awal masa orientasi mahasiswa baru dinilai menjadi pemicu utama. Nanang (bukan nama sebenarnya), mahasiswa semester dua di salah satu kampus negeri mengaku, awalnya hanya diajak berbincang santai oleh senior.
“Awalnya cuma diajak ngopi dan ngobrol biasa,” ujarnya. Namun, pendekatan tersebut perlahan berubah menjadi ajakan bergabung ke organisasi. Intensitas komunikasi yang meningkat membuat sebagian mahasiswa merasa sungkan untuk menolak.
Pengalaman serupa dialami Dinda (bukan nama sebenarnya), mahasiswa semester delapan, juga merupakan salah satu mahasiswa kampus negeri. Ia menilai, ruang koordinasi orientasi, terutama saat masa pandemi kerap dimanfaatkan sebagai jalur kaderisasi terselubung.
“Saya sempat keluar grup karena tidak tertarik. Tapi malah dihubungi personal dengan nada yang terasa memaksa,” ungkapnya. Menurutnya, persoalan bukan pada keberadaan organisasi, melainkan cara pendekatan yang dinilai kurang nyaman.
Ia menyebut, tekanan halus hingga komunikasi intens kerap membuat mahasiswa baru berada pada posisi dilematis. Dampaknya, muncul jarak di antara mahasiswa. Mahasiswa nonorganisasi kerap dilabeli apatis, sementara aktivis organisasi dianggap terlalu agresif.
Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi mengganggu iklim akademik. Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan berekspresi justru terpolarisasi oleh kepentingan kelompok.
Fenomena ini mendorong evaluasi pola kaderisasi organisasi mahasiswa. Tujuannya agar kaderisasi bisa berjalan lebih inklusif dan berbasis kesadaran, bukan tekanan. Tanpa perbaikan, organisasi berisiko kehilangan esensinya sebagai ruang pengembangan diri.



