BATU - Upaya pengendalian sampah di Kota Batu mulai menunjukkan hasil yang positif. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu mencatat timbulan sampah sepanjang 2025 turun signifikan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2024 volume sampah mencapai 52.910 ton per tahun, maka pada 2025 angkanya menyusut menjadi 44.178 ton.
Artinya, terjadi pengurangan timbulan sampah sebesar 8.732 ton dalam setahun. Penurunan tersebut berdampak langsung pada volume harian. Pada 2024, rata-rata sampah yang dihasilkan warga mencapai 145 ton per hari. Tahun ini, angka itu turun menjadi sekitar 121 ton per hari, atau berkurang 24 ton setiap hari.
Wali Kota Batu Nurochman menyebut perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor kunci penurunan timbulan sampah. Pemkot, kata dia, konsisten mendorong pemilahan sampah dari sumber, khususnya mulai tingkat rumah tangga.
“Sampah anorganik bernilai ekonomi dikelola melalui bank sampah, sementara sampah organik residu diproses menggunakan insinerator yang sudah beroperasi,” ujar Nurochman. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga memperkuat ekosistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Bahkan, capaian pengurangan sampah Kota Batu kini mencapai 30 persen. Meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 28 persen. Pihaknya berencana memperluas kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah.
Salah satunya melalui peluang hibah Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) dari pemerintah pusat serta kerja sama dengan Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (COOSAE).
Sementara itu, Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menambahkan pengurangan timbulan sampah akan terus diakselerasi melalui penguatan infrastruktur. Ia mengaku sedang mengajukan pembangunan enam titik TPS3R komunal yang mampu mengolah sampah hingga 10-15 ton per hari.
“Skema TPS3R komunal memungkinkan satu unit melayani lebih dari satu desa atau kelurahan. Misalnya, Kelurahan Ngaglik dan Pesanggrahan bisa berbagi satu fasilitas pengolahan,” jelas Dian.
Langkah tersebut dinilai strategis, terutama untuk kawasan dengan keterbatasan lahan pengolahan mandiri. Selain itu, DLH juga menyiapkan pembangunan big composter di TPA Tlekung serta rumah kompos di tingkat desa dan kelurahan.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjangkau pengelolaan sampah dari sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) yang selama ini menjadi penyumbang signifikan, terutama saat musim liburan. “Tantangan pengelolaan sampah di Kota Batu bukan hanya berasal dari warga, tetapi juga dari lonjakan wisatawan. Itu yang terus kami antisipasi,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho