Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Revitalisasi Pulau Jalan Sultan Agung Kota Batu Banyak Dikritik Netizen

Fajar Andre Setiawan • Senin, 15 September 2025 | 17:25 WIB
TUAI KOMENTAR NEGATIF: Wajah baru pulau Jalan Sultan Agung terus berprogres meski banyak dikritik publik kemarin (14/9).
TUAI KOMENTAR NEGATIF: Wajah baru pulau Jalan Sultan Agung terus berprogres meski banyak dikritik publik kemarin (14/9).

BATU - Revitalisasi pulau Jalan Sultan Agung terus berprogres. Wajah barunya sudah tampak jelas. Sayangnya, hasil polesan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menuai banyak kritik dari netizen. Alasannya, warna signage bertuliskan Jendela Batu Sae itu dinilai terlalu mentereng. Bentuk sclupcture juga dinilai tidak menarik. 

Dari pantauan wartawan koran ini di berbagai platform media sosial, ada beberapa komentar negatif terkait hasil revitalisasi pulau Jalan Sultan Agung tersebut. Salah satunya komentar yang ada dalam unggahan konten di akun TikTok milik @masbre. Misalnya, pemilik akun bernama @MrsKemayu yang mengkritik pemilihan bentuk taman.

“Sayang pemilihan tanamannya kurang tepat,” tulisnya di kolom komentar konten video yang diunggah @masbre. Selain itu, pemilik akun bernama @wudwirawan juga memberikan komentar serupa. “Gonjrang-ganjreng menyala Batu vibes 90-an” tulisnya. Dia menilai pemilihan font signage juga terlalu mentereng. 

Salah seorang netizen bernama Heri Mulyanto turut menunjukkan rasa kekecewaannya. Pria yang berkerja sebagai penata taman itu merasa model pulau jalan hasil revitalisasi kurang memuaskan. “Di luar Kota Batu bikin taman di-apik-apik (dipercantik), malah ndek nggone dewe koyok ngene (malah di sini seperti ini). Bagi yang tidak paham, disangkanya kami tidak memikirkan kota sendiri,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni menyampaikan proses revitalisasi belum selesai sepenuhnya. Sehingga, wajar jika posisinya dianggap masih kurang tepat. Sebab, dia mengaku masih melakukan uji coba. Posisi akan di permanenkan setelah proses revitalisasi rampung 100 persen. 

“Pemilihan warna hijau stabilo di ikon apel besar di ujung Jalan Sultan Agung untuk memantulkan LED projector agar lebih hidup,” ujarnya. Delapan gunung yang mengililingi ikon kedua pun memiliki arti. Yakni Gunung Anjasmoro, Gunung Arjuno, Gunung Banyak, Gunung Kawi, Gunung Panderman, Gunung Semeru, Gunung Welirang, dan Gunung Wukir.

Itu untuk menginformasikan opsi pendakian kepada wisatawan pencinta alam. Keberadaan bendera negara ASEAN sebagai wujud apresiasi kepada wisatawan mancanegara. Sebab, Batu kerap menjadi jujugan wisatawan dari negara ASEAN sebagai eco tourism. Sehingga, Dian memastikan seluruh ikon yang terpasang memiliki makna yang dalam.

Mantan Kabag Pengadaan Barang dan Jasa Kota Batu itu menyebut ada beberapa kendala dalam proses revitalisasi. Seperti masih banyak tiang listrik dan telepon yang menghalangi proses pengerjaan. Dian mengaku sudah bersurat kepada pihak terkait. Namun, belum ada tanggapan. Sehingga, pohon dan bunga di sekitar patung belum bisa ditanam. 

“Itu karena posisinya berada di sekitar kabel sutet. Kemungkinan nanti akan dipilih jenis pohon yang tidak begitu tinggi dan fokus ditanam di pinggir jalan saja,” pungkasnya. Sebagai informasi, pemolesan ulang pulau Jalan Sultan Agung akan digarap bertahap. Mulai dari pulau Jalan Imam Bonjol hingga ujung pertigaan Museum Angkut. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#DLH #pemkot #pulau jalan #revitalisasi #batu