Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Selada Keriting di Kota Batu Anjlok

F
HARGA ANJLOK: Petani memanen selada keriting di lahan Desa Sumberejo, Kecamatan Batu kemarin (18/1).
HARGA ANJLOK: Petani memanen selada keriting di lahan Desa Sumberejo, Kecamatan Batu kemarin (18/1).

BATU - Panen raya yang seharusnya membawa keuntungan justru berubah menjadi pukulan telak bagi petani selada keriting di Kota Batu. Harga komoditas sayur lalap itu anjlok drastis menjadi Rp1-2 ribu per kilogram di tingkat petani. Angka itu jauh dari harga ideal yang bisa menembus Rp35 ribu per kilogram.


Advertisement

Kondisi tersebut dipicu melimpahnya pasokan di pasar pasca panen serentak. Sementara, permintaan tak beranjak signifikan. Akibatnya, nilai jual selada keriting atau yang juga dikenal sebagai andewi jatuh ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Krisdiantoro, petani selada keriting asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji mengungkapkan harga jual dari tangan petani kini hanya Rp2 ribu per kilogram. Bahkan, satu keranjang selada hanya laku Rp25 ribu.

“Padahal dalam kondisi normal, satu keranjang bisa mencapai Rp900 ribu,” ujarnya. Ironisnya, harga rendah itu juga tidak diiringi kualitas panen yang optimal. Curah hujan tinggi menyebabkan sebagian tanaman membusuk di lahan.

Advertisement

Hasil panen menyusut, sedangkan biaya produksi tetap tinggi. “Biaya tanam dan perawatan tidak sebanding. Sekali tanam bisa keluar jutaan rupiah, mulai dari bibit, pupuk, obat-obatan, sampai perawatan rutin,” kata Kris, sapaan Krisdiantoro.

Situasi serupa dialami Yantoro, petani selada keriting dari Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. Ia menilai anjloknya harga tak lepas dari euforia tanam serentak menjelang libur panjang akhir tahun.

Banyak petani menanam komoditas yang sama dengan harapan permintaan melonjak saat momentum tahun baru. “Perkiraannya ramai, tapi kenyataannya zonk. Panen banyak, pembeli tidak sebanding,” ungkapnya.

Advertisement

Harga yang terlampau rendah membuat sebagian petani memilih menunda panen. Sebab, ongkos panen dinilai tak sepadan dengan nilai jual. “Saya jual 4-5 keranjang cuma dihargai Rp100 ribu,” katanya.

Anjloknya harga tak hanya menimpa selada keriting. Beberapa komoditas sayuran lain ikut tertekan. Harga seledri turun menjadi sekitar Rp4 ribu per kilogram dari harga normal Rp9-10 ribu. Sementara itu, harga pokcoy juga merosot hampir separuh dari harga ideal.

Kondisi ini menegaskan rapuhnya sistem tata niaga hortikultura. Tanpa pengaturan pola tanam dan kepastian pasar, panen raya kerap berubah menjadi bencana harga bagi petani. (ori/dre)

Advertisement
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Museum Srimulat di Mega Science Center Jatim Park 1, Kenalkan Sejarah Lawak Legendaris

Museum Srimulat di Mega Science Center Jatim Park 1, Kenalkan Sejarah Lawak Legendaris

Museum Srimulat di Mega Science Center Jatim Park 1 yang mengenalkan sejarah lawak legendaris di Indonesia

Mediasi Kedua Fasum di Sisir Kota Batu Kembali Buntu

Mediasi Kedua Fasum di Sisir Kota Batu Kembali Buntu

Mediasi sengketa dugaan pendudukan fasum di Sisir Kota Batu kembali berakhir buntu.

4 Kuliner Khas Batu untuk Oleh-Oleh, Ada Keripik Apel hingga Sari Apel

4 Kuliner Khas Batu untuk Oleh-Oleh, Ada Keripik Apel hingga Sari Apel

Keripik apel, sari apel, jenang hingga dodol menjadi pilihan kuliner khas Batu yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan.oleh-oleh Batu, k

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer