Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

16 Sapi Suspek Penyakit Mulut dan Kuku, Tahun Lalu Tercatat 90 Kasus

I
Penulis: Indah Mei Yunita❯
Ilustrasi Ternak Sapi
Ilustrasi Ternak Sapi

Advertisement

BATU, RADAR BATU - Kasus suspek penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak di Kota Batu melandai sepanjang 2026. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu mencatat 16 sapi dilaporkan suspek PMK tahun ini. Jumlah tersebut turun jauh dibandingkan 90 sapi suspek pada 2025. Seluruh kasus yang ditemukan tahun lalu juga telah dinyatakan sembuh.

Kepala Distan-KP Kota Batu Hendry Suseno mengatakan 16 kasus tahun ini dilaporkan dari peternak di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. Saat laporan diterima, kondisi sapi disebut sudah hampir pulih. “Sebelumnya, sapi tersebut memiliki luka melepuh di mulutnya seperti sariawan,” ujarnya.

Sedangkan, 90 kasus suspek pada 2025 tersebar di tujuh desa. Di antaranya Desa Bulukerto, Gunungsari, Giripurno, Punten, Sumbergondo, Beji, dan Junrejo. Hendry memastikan seluruh ternak telah sembuh. Tidak ada sapi yang mati atau dipotong paksa akibat PMK.

Hendry menjelaskan PMK merupakan penyakit menular yang menyerang hewan berkuku belah. Contohnya sapi, kambing, dan domba. Di Kota Batu, sapi menjadi ternak yang paling banyak dilaporkan terserang. Gejala yang umum terlihat berupa demam tinggi hingga 40-41 derajat Celsius.

Selain itu, gejalanya berupa munculnya luka lepuh pada mulut, lidah, bibir, gusi, hidung, atau bagian lain di sekitar rongga mulut. Nafsu makan ternak juga dapat menurun. Itulah mengapa bobot dan produktivitasnya ikut terdampak. Hendry mengatakan penularan PMK dapat terjadi melalui air liur, cairan lepuh, susu, hingga kotoran hewan yang terinfeksi.

Advertisement

Penularan dapat berlangsung antarternak dalam satu kandang. Bisa juga berpindah antarwilayah melalui mobilitas hewan dan sarana pendukungnya. “Selain itu juga harus ada pengawasan lalu lintas ternak,” katanya.

Karena itu, pencegahan tidak hanya mengandalkan penanganan ketika kasus muncul. Kebersihan kandang, sanitasi peralatan, serta vaksinasi pada ternak sehat menjadi bagian penting untuk menekan risiko penularan.

Penanganan ternak yang terinfeksi lebih banyak diarahkan pada penguatan kondisi tubuh dan pengendalian gejala. Sebab, PMK disebabkan virus, sehingga antibiotik tidak dapat digunakan untuk membasmi penyebab penyakit tersebut.

Advertisement

Artikel Terkait

Kota Batu Bidik Agrowisata Sayuran Organik

Kota Batu Bidik Agrowisata Sayuran Organik

Pemkot Batu siapkan Desa Giripurno dan Mojorejo jadi kawasan percontohan agrowisata organik.

Kota Batu Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Kota Batu Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Distan KP Kota Batu dorong petani kurangi pupuk kimia demi pulihkan kondisi tanah.

Lahan Organik Kota Batu Baru 21 Hektare

Lahan Organik Kota Batu Baru 21 Hektare

Lahan pertanian organik murni di Kota Batu baru capai 21 hektare sejak 2014.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer