Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penjualan Apel Batu Terus Anjlok

I
Penulis: Indah Mei Yunita❯
MAKIN SEPI: Penjual oleh-oleh khas Kota Batu di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo menata apel dan jeruk beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
MAKIN SEPI: Penjual oleh-oleh khas Kota Batu di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo menata apel dan jeruk beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

Advertisement

JUNREJO, RADAR BATU - Penjualan apel khas Kota Batu terus merosot sejak 2024. Dua tahun lalu, penjualan masih bisa tembus rata-rata 1,5 kuintal per bulan. Namun, sejumlah pedagang di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo kini hanya mampu menjual 50-90 kilogram per bulan.

Suladi, salah satu penjual apel mengatakan kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibanding sebelum 2024. Kendati saat itu pun tingkat penjualan sudah mengalami penurunan ekstrem. Kunjungan wisata memang masih ramai. Namun, pola belanja wisatawan lebih hemat.

“Dulu sebelum 2024 itu, masih banyak yang beli. Mungkin hampir setiap minggu bisa menambah stok dagangan, tapi sekarang sudah berbeda jauh,” kata dia. Buah apel sebagai oleh-oleh bukan kebutuhan primer. Itulah yang membuat wisatawan cenderung mengesampingkan pembelian.

Advertisement

Baca Juga: 

Padahal, harga jual apel masih relatif terjangkau. Apel madu, misalnya, dibanderol Rp 60 ribu untuk kemasan 2 kilogram. Ada pula kemasan yang dijual Rp 40-45 ribu. Sementara apel manalagi dipatok Rp 40 ribu per kilogram.

Tekanan pedagang juga datang dari sisi pasokan. Di luar masa panen seperti saat ini, stok apel dari sejumlah sentra produksi seperti Junggo, Pujon, Nongkojajar, hingga Tulungrejo kerap tidak menentu. “Apalagi kalau sudah musim hujan, stok apel biasanya sulit,” imbuhnya. 

Advertisement

Dari sejumlah varietas yang dijual, apel manalagi masih menjadi favorit pelanggan. Rasanya yang lebih manis dan aroma khasnya menjadi alasan jenis tersebut banyak diminati. Sementara itu, Rome Beauty (RB) dinilai memiliki kualitas terbaik.

Varietas yang menjadi salah satu ciri khas Kota Batu tersebut biasanya diminati wisatawan yang memang menyukai apel. Meski penjualan dan pasokan tak menentu, pedagang tetap mempertahankan usahanya. Berdagang apel bagi mereka bukan sekadar bisnis. Namun, sumber penghasilan utama yang harus dijalankan di tengah tekanan ekonomi.

Hal yang sama juga dialami Sulkan, salah satu pedagang apel di Jalan Raya Mojorejo. Menurutnya, penjualan apel semakin menurun. Beberapa tahun lalu dia bisa menjual sampai sekitar 50 kilogram per hari. Namun, saat ini ia hanya bisa menjual 1 kuintal per bulan. “Jangankan penjualan, produksi saya juga menurun setiap tahun,” kata dia.

Advertisement

Artikel Terkait

Produksi Apel di Kota Batu Anjlok 51 Persen, Lahan Tersisa 30 Persen

Produksi Apel di Kota Batu Anjlok 51 Persen, Lahan Tersisa 30 Persen

Produksi apel Kota Batu anjlok hingga 51 persen akibat alih fungsi lahan dan tingginya biaya produksi.

Dana Revitalisasi Apel Kota Batu Masuk Prioritas PAK

Dana Revitalisasi Apel Kota Batu Masuk Prioritas PAK

Dana segar untuk revitalisasi komoditas ikonis di Kota Batu itu dipastikan cair melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD 2026.

Cara Memilih Apel yang Segar, Kenali Ciri-cirinya 

Cara Memilih Apel yang Segar, Kenali Ciri-cirinya 

Simak cara memilih apel segar dengan memperhatikan tekstur kulit, kondisi buah, aroma, serta cara menyimpan dan mencucinya dengan benar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer