
Giripurno dan Mojorejo Digenjot Jadi Percontohan
BATU, RADAR BATU - Perluasan lahan pertanian organik di Kota Batu masih berjalan lambat. Sejak program peralihan dari pertanian konvensional digalakkan pada 2014, luas lahan yang berstatus organik murni baru sekitar 21 hektare. Angka itu jauh dari total lahan hortikultura yang mencapai sekitar 4.000 hektare.
Masa transisi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani. Peralihan dari penggunaan pupuk kimia menuju sistem organik tidak bisa dilakukan secara instan. Sebab, hal itu membutuhkan pemulihan kondisi tanah. Di sisi lain, produktivitas panen petani tetap perlu dijaga. Saat ini, Desa Giripurno dan Mojorejo disiapkan sebagai kawasan percontohan.
Baca Juga: KATSEYE Umumkan Jadwal WILDWORLD Tour di Asia Tahun 2027, Indonesia Tidak Masuk List
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan, edukasi kepada petani akan digencarkan. Tujuannya agar mereka bersedia beralih ke sistem pertanian ramah lingkungan. Menurut dia, penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang berdampak terhadap kondisi tanah, terutama kandungan bahan organiknya.
“Penggunaan pupuk kimia di masa lalu telah merusak kadar hara esensial pada lahan pertanian,” jelasnya. Hendry menyebut, kandungan karbon organik (C-organik) pada sejumlah lahan konvensional telah menurun hingga level yang mengkhawatirkan. Jika kadarnya terlalu rendah, kemampuan tanah dalam menyerap dan menyediakan nutrisi bagi tanaman ikut terganggu. Akibatnya, pemupukan tidak selalu memberikan hasil optimal.
Baca Juga: Cinepolis Umumkan Line-up Baru untuk Film yang Tayang di Sala de Arte, Ada Monster (2023)
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia tanpa mengorbankan hasil panen, Distan KP menerapkan skema pemupukan berimbang. Petani didorong mengurangi penggunaan pupuk kimia secara bertahap. Hal itu dilakukan seiring meningkatkan pemanfaatan bahan organik. Tujuannya agar kondisi tanah berangsur pulih.
Dukungan juga diberikan melalui penyaluran sarana produksi pertanian ramah lingkungan kepada kelompok tani. Bantuan tersebut mencakup pupuk organik padat dan cair, agen hayati, serta Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau bakteri pemacu pertumbuhan tanaman.
Baca Juga: Raisa Mendonasikan Pendapatannya dari ‘Nyawa dan Harapan’ guna Mendukung Restorasi Habitat Indonesia
Pengendalian hama terpadu turut diperkenalkan. Namun, sosialisasinya tetap dengan mengutamakan pencegahan menggunakan bahan nabati. Pestisida digunakan sebagai pilihan terakhir ketika serangan hama sudah meluas dan berpotensi menyebabkan gagal panen.
Untuk mengurangi ketergantungan pada produk pertanian pabrikan, Distan KP juga menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan sejumlah perguruan tinggi. Kolaborasi itu diarahkan untuk meneliti dan mengembangkan varietas hortikultura yang lebih tahan penyakit. Dengan begitu, varietas baru bisa beradaptasi dengan perubahan iklim.
Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 30 Oktober: Kabut Tebal dari Dini Hari, Hujan Ringan Siang hingga Sore Hari
Sementara itu, Fungsional Bidang Pertanian Distan KP Kota Batu Yusuf Efendi mengatakan, konsep agrowisata organik masih dimatangkan. Lahan yang telah menerapkan sistem organik murni nantinya diarahkan menjadi kawasan edukasi pertanian. Langkah itu akan memberikan nilai tambah dibandingkan penjualan hasil panen melalui pasar konvensional.
