BATU, RADAR BATU - Wisata Brakseng di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, masih mampu menarik sekitar 100 pengunjung setiap pekan. Destinasi yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tersebut mengandalkan panorama hamparan lahan pertanian dan udara pegunungan sebagai daya tarik utama.
Penjaga loket Wisata Brakseng, Misman mengatakan rata-rata kunjungan mencapai sekitar 20 orang per hari. Jumlah itu meningkat saat akhir pekan. Terutama ketika rombongan wisatawan datang menggunakan jeep. Saat ramai, penjualan tiket bisa mencapai Rp 300 ribu dalam sehari. Dengan tarif Rp 5 ribu per orang, jumlah pengunjung yang masuk sekitar 60 orang pada Sabtu atau Minggu.
Baca Juga: Tak Jauh dari Batu, Ramu Space Malang Sajikan Kencur Latte hingga Choco Spice
“Ada yang ke kafe, ada juga yang hanya jalan-jalan melihat pemandangan dari atas,” ujarnya kemarin (4/10). Sebagian pengunjung datang untuk mengabadikan pemandangan. Sebagian lainnya sekadar menikmati udara segar dan suasana pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Mirna Amanda Fitri, wisatawan asal Kabupaten Mojokerto mengaku datang bersama keluarganya. Perempuan 25 tahun itu memilih mampir ke Brakseng sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Batu. “Pemandangan lahan pertaniannya bagus kalau dilihat dari atas. Semuanya jadi terlihat, termasuk beberapa permukiman penduduk,” ujarnya.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI Kota Batu Naik Ke Penyidikan, Kejari Panggil Pengurus Hari Ini
Kepala Desa Sumberbrantas Saniman mengatakan Brakseng menjadi salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan. Destinasi tersebut buka setiap hari sejak pagi hingga petang. “Kami memang menjual view, hamparan pertanian milik warga,” katanya.
Wisatawan biasanya mulai berdatangan sekitar pukul 10.00 hingga 11.00. Bahkan saat musim kemarau, kunjungan masih cukup ramai hingga sore. Kondisi tersebut membuat Brakseng tetap menjadi salah satu tujuan wisata di kawasan Sumberbrantas. Kawasan Brakseng juga menjadi salah satu jalur pendakian menuju Gunung Arjuno. Namun, aktivitas pendakian masih ditutup menyusul kebakaran kawasan hutan.
Editor : Fajar Andre Setiawan