BATU, RADAR BATU - Wisatawan dapat belajar sejarah Indonesia Raya melalui pengalaman audio dan visual di Spot WR. Supratman, Museum Musik Dunia Jatim Park 3. Area tersebut menghadirkan patung Wage Rudolf Supratman, teks Indonesia Raya tiga bait, dan rekaman lagu melalui radio antik. Konsep itu membuat pengunjung bisa mengenal sejarah lagu kebangsaan dengan cara lebih dekat.
Spot itu menempatkan patung WR. Supratman sebagai titik utama. Pengunjung juga dapat membaca teks Indonesia Raya dalam tiga bait. Penyajian itu sekaligus mengenalkan sosok pencipta lagu yang menjadi bagian penting dari sejarah kebangsaan. Pengalaman berbeda terasa ketika Indonesia Raya tiga bait diperdengarkan melalui radio antik.
Suara yang dibuat menyerupai siaran radio masa lalu menciptakan atmosfer historis. Pengunjung tidak hanya membaca informasi, tetapi juga diajak merasakan suasana melalui elemen audio. Manajer Operasional Museum Musik Dunia Mulyadi mengatakan, konsep tersebut dirancang agar sejarah bisa diterima berbagai kelompok usia.
Baca Juga: ULD Kota Batu Ditarget Beroperasi Tahun Depan - Radar Batu
Tak ditampik, konsep tersebut dibuat dengan sasaran utama anak-anak dan pelajar. Tujuannya agar mereka merasakan pengalaman belajar mengenal WR. Supratman dan kaitannya dengan Indonesia Raya dengan cara yang menyenangkan. “Pengunjung dapat belajar melalui pengalaman yang sederhana, tetapi tetap memiliki nilai sejarah,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan patung, teks Indonesia Raya tiga bait, dan audio melalui radio antik diharapkan membuat cerita sejarah terasa lebih dekat. Pendekatan itu juga menjadi pelengkap pengalaman wisata di Jatim Park 3. Bagi keluarga, spot tersebut dapat menjadi ruang belajar sejarah yang lebih ringan.
Orang tua bisa mengenalkan siapa WR. Supratman, kaitannya dengan Indonesia Raya, serta kedudukan lagu tersebut sebagai identitas kebangsaan. Konsep tersebut menunjukkan bahwa wisata edukasi tidak selalu harus disajikan melalui rangkaian tanggal dan peristiwa. Momentum kemerdekaan pun menjadi kesempatan untuk kembali mengenalkan kisah tersebut kepada generasi muda.
Editor : Fajar Andre Setiawan