Disbudpar Jatim Dorong Homestay Perkuat Ekonomi Desa Wisata di Kota Batu

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:00 WIB
NYAMAN: Homestay Syariah Cempaka Kota Batu kerap jadi jujukan wisatawan untuk menginap.
NYAMAN: Homestay Syariah Cempaka Kota Batu kerap jadi jujukan wisatawan untuk menginap.

BATU, RADAR BATU - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur mendorong optimalisasi homestay dalam pengembangan desa wisata. Fasilitas tersebut dinilai mampu memperluas dampak ekonomi pariwisata hingga langsung dirasakan masyarakat desa.

Kepala Bidang Destinasi Disbudpar Jatim Radiq Mulya Mahardika mengatakan perkembangan desa wisata di Jawa Timur menunjukkan tren positif setiap tahun. Kondisi tersebut juga terlihat di Kota Batu.

Menurutnya, keberadaan desa wisata turut mengubah pola kunjungan wisatawan. Pelancong tidak lagi hanya berfokus pada destinasi utama. Namun, mulai memiliki alternatif untuk menikmati kehidupan masyarakat desa.

Baca Juga: APBD 2027 Didorong Fokus ke Desa, Beasiswa 1.000 Sarjana hingga Pertanian Tetap Diprioritaskan - Radar Batu

“Semakin banyak desa wisata, masyarakat punya banyak pilihan. Mereka tidak harus menginap di hotel, tetapi ada desa wisata yang menyediakan homestay,” ujarnya. Wisatawan juga dapat menginap sekaligus merasakan suasana kehidupan pedesaan.

Pola itu membuat aktivitas ekonomi tidak hanya berputar di kawasan destinasi wisata. Pemanfaatan homestay juga menjadi salah satu bagian penting dalam program Desa Wisata Cerdas, Mandiri, dan Sejahtera (Dewi Cemerlang) yang jadi program prioritas Pemprov Jatim.

“Di Kota Batu, desa wisatanya sudah masuk dalam kategori maju dan mandiri. Kualitasnya juga terus berkembang,” imbuhnya. Radiq menilai, homestay yang dikelola masyarakat lokal memiliki efek ekonomi lebih luas.

Baca Juga: 70 Siswa SR Asal Kabupaten Malang Masih Tunggu Lampu Hijau Pusat - Radar Batu

Wisatawan tidak sekadar datang untuk berfoto. Namun, juga tinggal dan berinteraksi dengan warga. Selama tinggal, kebutuhan wisatawan seperti makanan, minuman, hingga kebutuhan harian berpotensi dibelanjakan di lingkungan sekitar. Perputaran uang pun dapat dirasakan lebih banyak pelaku usaha lokal.

“Dampak ekonomi tersebut bisa dirasakan langsung sampai masyarakat paling bawah, yaitu masyarakat desa,” tegasnya. Karena itu, Pemprov Jatim bersama pemerintah daerah terus memberikan pendampingan kepada pengelola desa wisata dan homestay. Pembinaan mencakup kualitas pelayanan, kebersihan, hingga standar kenyamanan bagi wisatawan.

Radiq menyebut saat ini terdapat 734 desa wisata di Jatim. Khusus Kota Batu, pengelolaan desa wisata berbasis homestay masih dioptimalkan. Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat lokal diharapkan makin kuat. Dengan begitu, kualitas fasilitas tetap terjaga dan mampu menopang keberlanjutan ekonomi masyarakat desa. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
pariwisata jawa timur Disbudpar Jatim homestay wisata kota batu desa wisata