BATU, RADAR BATU - Pemerintah Kota Batu menargetkan kualitas 24 desa dan kelurahan yang telah berstatus desa wisata terus meningkat. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada penambahan atraksi, tetapi juga penguatan sumber daya manusia, kelembagaan, infrastruktur, hingga pemasaran digital.
Dari 24 desa wisata tersebut, sebanyak 18 telah masuk kategori maju dan enam lainnya kategori berkembang.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengatakan peningkatan kategori desa wisata harus dilakukan secara bertahap sesuai indikator standar nasional. “Kenaikan kategori desa wisata harus diupayakan,” ujarnya.
Baca Juga: 81 Veteran dan Janda Terima Insentif Rp 6 Juta Setahun - Radar Batu
Jenjang pengembangan desa wisata meliputi status rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri. Indikator tersebut juga menjadi acuan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) maupun jejaring desa wisata (Jadesta).
Untuk mengejar peningkatan kategori, Disparta Kota Batu menyiapkan pembinaan dari hilir hingga hulu.
Salah satu fokusnya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pengelola desa wisata akan mendapatkan bimbingan teknis mengenai standar pelayanan atau hospitality, bahasa asing, storytelling, hingga mitigasi bencana pariwisata.
Baca Juga: 57 Sekolah di Malang Raya Terapkan Ketahanan Pangan - Radar Batu
Pembinaan terutama menyasar kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan badan usaha milik desa (BUMDes).
Selain SDM, kelembagaan juga menjadi perhatian. Pemerintah akan mendorong tata kelola yang lebih profesional melalui pendampingan transparansi manajerial, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta regulasi di tingkat desa.
Penguatan tersebut dibutuhkan agar aktivitas wisata tidak bergantung pada figur tertentu dan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Baca Juga: HUT Ke-81 RI Jadi Momentum Pemkot Batu Benahi Program MBG dan KDKMP - Radar Batu
Pemkot juga mendorong setiap desa memiliki identitas yang jelas melalui unique selling proposition (USP).
Potensi setiap desa akan dipetakan dan dikembangkan sesuai karakter masing-masing. Mulai wisata petik apel, kriya lokal, agrowisata bunga, olahraga ekstrem, hingga potensi budaya dan aktivitas masyarakat.
Setelah memiliki produk yang jelas, desa wisata didorong memperkuat pemasaran digital dan branding kreatif.
Strategi pemasaran juga dilakukan melalui familiarization trip atau famtrip. Agen perjalanan, media massa, dan content creator diundang untuk merasakan langsung pengalaman menginap maupun beraktivitas di desa.
Konsep tersebut diharapkan menghasilkan promosi berbasis pengalaman sehingga calon wisatawan mendapatkan gambaran nyata mengenai produk yang ditawarkan.
Infrastruktur juga tidak luput dari perhatian. Pemkot Batu berencana memfasilitasi peningkatan akses jalan, penunjuk arah atau signage, toilet higienis, balai pertemuan, hingga fasilitas atraksi.
Baca Juga: Marak Iuran Wajib Peringatan Kemerdekaan di Kota Batu, Anak Kos Juga Jadi Target - Radar Batu
Desa wisata juga didorong mengikuti kompetisi dan jejaring pariwisata tingkat nasional maupun Asia Tenggara.
Selain ADWI, sejumlah ajang dan forum regional seperti Responsible Tourism Award SEA maupun jejaring desa wisata ASEAN dapat menjadi sarana memperluas eksposur.
Baca Juga: Terkendala Verifikasi, Pengisian Jabatan Kosong Molor - Radar Batu
Dengan berbagai strategi tersebut, Pemkot Batu ingin peningkatan status desa wisata tidak berhenti pada label administratif.
Kenaikan kategori harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk, pengelolaan, pelayanan, infrastruktur, dan kemampuan desa mendatangkan wisatawan secara berkelanjutan.
Editor : Fajar Andre Setiawan