BATU, RADAR BATU - Desa wisata di Kota Batu tak ingin tenggelam di tengah gemerlap destinasi wisata modern berbasis wahana. Dengan modal yang jauh lebih terbatas, desa memilih menawarkan sesuatu yang tidak mudah ditemukan di objek wisata besar, yakni pengalaman hidup dan kearifan lokal masyarakat.
Salah satunya dilakukan Desa Wisata Ngajak Tandang Mojorejo. Desa wisata maju tersebut mengembangkan wisata edukasi dengan memanfaatkan potensi yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
Kepala Desa Mojorejo Rujito mengatakan desa tidak mungkin bersaing dengan destinasi wisata besar dari sisi modal. Karena itu, strategi yang dipilih adalah mencari celah melalui kekuatan lokal.
Baca Juga: Terkendala Verifikasi, Pengisian Jabatan Kosong Molor - Radar Batu
“Wisata-wisata besar itu butuh modal yang cukup banyak. Sedangkan jika di desa yang modalnya relatif terbatas, pengembangan wisata bisa memanfaatkan dan mengambil kearifan lokal,” ujarnya.
Konsep wisata edukasi menjadi salah satu pilihan. Pengolahan sampah terpadu, misalnya, dapat dikemas menjadi pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat objek, tetapi juga belajar bagaimana masyarakat mengelola lingkungan.
Potensi lain berasal dari budaya masyarakat, keterampilan warga, hingga aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga: Marak Iuran Wajib Peringatan Kemerdekaan di Kota Batu, Anak Kos Juga Jadi Target - Radar Batu
UMKM di Mojorejo mayoritas bergerak di sektor pertanian dan perikanan. Pengembangannya dilakukan antara lain melalui konsep urban farming.
Bagi desa, aktivitas tersebut justru menjadi modal wisata yang tidak membutuhkan investasi sebesar pembangunan wahana wisata modern.
Mojorejo juga memiliki sejumlah toko oleh-oleh yang dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
Baca Juga: 81 Veteran dan Janda Terima Insentif Rp 6 Juta Setahun - Radar Batu
Konsep tersebut menjadi penting karena Kota Batu memiliki karakter sebagai kota wisata dengan banyak destinasi modern berskala besar.
Namun, keberadaan destinasi tersebut tidak berarti desa wisata harus meniru model yang sama.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengatakan pemerintah mendorong desa menggali unique selling proposition (USP) masing-masing.
Baca Juga: Apa Bedanya Desa Wisata dan Wisata Desa? Ini Penjelasan Pemkot Batu - Radar Batu
Potensi tersebut bisa berupa wisata petik apel, kriya lokal, agrowisata bunga, olahraga ekstrem, hingga aktivitas masyarakat.
Potensi itu kemudian perlu dikemas menjadi identitas visual dan kampanye digital agar mudah dikenali wisatawan.
Saat ini, terdapat 24 desa dan kelurahan di Kota Batu yang telah berstatus desa wisata. Sebanyak 18 masuk kategori maju dan enam kategori berkembang.
Baca Juga: Bukan Hanya Destry Damayanti! Berikut Empat Nama Calon Dewan Gubernur Bank Indonesia - Radar Batu
Pemkot Batu menargetkan kualitas tersebut terus meningkat hingga seluruh desa mampu naik kategori, dari rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri.
Karena itu, pembinaan tidak hanya menyasar atraksi. Disparta juga menyiapkan peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan hospitality, bahasa asing, storytelling, hingga mitigasi bencana pariwisata.
Kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan badan usaha milik desa (BUMDes) menjadi salah satu sasaran utama penguatan kelembagaan.
Baca Juga: Terkendala Verifikasi, Pengisian Jabatan Kosong Molor - Radar Batu
Dengan strategi tersebut, desa wisata Kota Batu tidak diarahkan menjadi “miniatur” destinasi wisata modern.
Sebaliknya, kekuatannya justru berada pada sesuatu yang tidak dimiliki wisata berbasis wahana, yakni wisatawan dapat masuk lebih dekat ke kehidupan masyarakat, belajar, berinteraksi, dan merasakan pengalaman lokal.
Editor : Fajar Andre Setiawan