BATU, RADAR BATU - Sebanyak 24 desa dan kelurahan di Kota Batu didorong meningkatkan kategori desa wisata. Tujuannya agar mampu bersaing dengan destinasi modern berbasis wahana. Sejauh ini 18 desa wisata masuk kategori maju dan enam mandiri. Pengembangan ke depan diarahkan pada penguatan potensi lokal, kualitas SDM, kelembagaan, hingga pemasaran digital. Itu agar desa tidak sekadar menjadi pelengkap industri pariwisata Kota Batu.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengatakan peningkatan kategori harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap desa wisata didorong naik dari rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri sesuai indikator yang berlaku secara nasional. “Kenaikan kategori desa wisata harus diupayakan,” ujarnya.
Menurut Onny, status tersebut tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan objek wisata. Pengelola harus mampu membangun pengalaman wisata yang memiliki keunikan dan nilai tambah. Karena itu, Disparta memperkuat pembinaan dari sisi hulu hingga hilir, terutama peningkatan kapasitas pengelola.
Baca Juga: Marak Iuran Wajib Peringatan Kemerdekaan di Kota Batu, Anak Kos Juga Jadi Target - Radar Batu
Pelatihan diarahkan pada kemampuan hospitality, bahasa asing, storytelling, hingga mitigasi bencana pariwisata. Sasaran utamanya kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan badan usaha milik desa (BUMDes) yang menjadi ujung tombak pengelolaan destinasi.
Penguatan kelembagaan juga menjadi perhatian. Disparta mendorong setiap desa memiliki tata kelola yang transparan dan profesional. Salah satunya diwujudkan melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP), regulasi desa, serta pendampingan manajerial.
Langkah tersebut penting karena desa wisata memiliki karakter berbeda dengan destinasi wisata modern yang umumnya ditopang modal besar. Desa justru dituntut menjual sesuatu yang tidak mudah ditiru, yakni kehidupan, budaya, dan potensi masyarakat setempat.
Baca Juga: 1 dari 5 Perempuan di Kota Batu Melahirkan sebelum Usia 20 Tahun - Radar Batu
Pengelolaan desa wisata harus semakin profesional agar mampu bertahan dan berkembang. Peningkatan kualitas fisik juga tetap dilakukan. Pemkot mendorong perbaikan akses jalan, penunjuk arah, toilet, balai pertemuan, hingga fasilitas atraksi.
Infrastruktur tersebut menjadi penunjang. Tujuannya agar pengalaman wisatawan tidak berhenti pada keunikan produk. Desa wisata juga akan didorong mengikuti ajang tingkat nasional dan regional. Misalnya, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan forum pariwisata ASEAN.
Selain menjadi tolok ukur kualitas, keikutsertaan tersebut diharapkan memperluas eksposur desa wisata Kota Batu. Dengan strategi tersebut, desa wisata tidak diarahkan sekadar mengejar label mandiri.
Baca Juga: 57 Sekolah di Malang Raya Terapkan Ketahanan Pangan - Radar Batu
Yang lebih penting, setiap desa memiliki produk yang khas, pengelolaan yang profesional. Selain itu, dewa wisata sekaligus bisa memiliki pasar yang jelas sehingga mampu bertahan di tengah dominasi wisata modern Kota Batu.
Kepala Desa Mojorejo Rujito mengatakan keterbatasan modal justru dapat menjadi peluang bagi desa untuk mengembangkan wisata berbasis kearifan lokal. Desa tidak perlu berhadapan langsung dengan destinasi besar yang menawarkan wahana berskala industri.
Menurutnya, wisata-wisata besar butuh modal yang cukup banyak. “Sedangkan jika di desa yang modalnya relatif terbatas, pengembangan wisata bisa memanfaatkan dan mengambil kearifan lokal,” katanya.
Baca Juga: Bukan Hanya Destry Damayanti! Berikut Empat Nama Calon Dewan Gubernur Bank Indonesia - Radar Batu
Desa Wisata Ngajak Tandang Mojorejo jadi salah satu contoh. Pengembangan tidak hanya mengandalkan objek wisata. Namun, mulai diarahkan pada wisata edukasi. Pengolahan sampah terpadu, misalnya, dapat dikemas sebagai pengalaman belajar bagi wisatawan.
Potensi lain berasal dari budaya, keterampilan warga, hingga UMKM. Pelaku usaha di Mojorejo banyak bergerak pada sektor pertanian dan perikanan yang dikembangkan melalui konsep urban farming.
Potensi tersebut dapat dikemas menjadi aktivitas wisata yang memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung. Rujito menilai model tersebut menjadi pembeda dari wisata modern. Jika destinasi besar menjual wahana, desa dapat menjual pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Terkendala Verifikasi, Pengisian Jabatan Kosong Molor - Radar Batu
Karena itu, ia mendorong masyarakat tidak melihat keterbatasan potensi alam sebagai hambatan. Justru aktivitas sehari-hari yang memiliki keunikan dapat menjadi produk wisata jika dikemas secara tepat.
Di sisi pemasaran, Disparta mendorong setiap desa menemukan unique selling proposition (USP) masing-masing. Potensi seperti petik apel, kriya lokal, agrowisata bunga, hingga olahraga ekstrem harus memiliki identitas yang jelas. Dengan begitu, tidak seluruh desa menawarkan produk wisata yang seragam.
Pemasaran digital juga diperkuat melalui branding kreatif dan pengalaman langsung. Disparta menyiapkan famtrip dengan mengundang agen perjalanan, media, serta content creator untuk merasakan aktivitas di desa sekaligus memperluas jangkauan promosi.
Editor : Fajar Andre Setiawan