BATU, RADAR BATU – Tidak semua desa memiliki gunung, air terjun, atau panorama alam spektakuler untuk menarik wisatawan. Desa Mojorejo, Kota Batu, Jawa Timur, memilih jalan berbeda. Desa tersebut mengembangkan potensi wisata melalui sejarah, budaya, kehidupan masyarakat, hingga pertanian organik.
Salah satu kekuatan yang diangkat adalah Prasasti Sangguran. Setiap tahun, masyarakat Mojorejo memperingati Ambal Warsa Prasasti Sangguran sebagai bagian dari upaya merawat sejarah sekaligus memperkenalkan identitas desa.
Tahun ini, peringatan ke-1.098 digelar pada 2 Agustus melalui tradisi budaya Puja Manusuk Sima Sangguran di Padepokan Sangguran.
Baca Juga: Proyek Trotoar Abdul Gani, Kota Batu Senilai Rp 1,7 M Mulai Digarap - Radar Batu
Bagi masyarakat Mojorejo, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Momentum itu sekaligus menjadi sarana edukasi sejarah dan memperkuat komitmen masyarakat dalam memperjuangkan pemulangan Prasasti Sangguran yang kini berada di Skotlandia.
Kepala Desa Mojorejo Rujito mengatakan potensi wisata tidak selalu harus berupa objek fisik yang dibangun secara khusus. “Perlu ada kesadaran bersama, setiap potensi bisa diangkat menjadi destinasi wisata,” tegasnya.
Menurut Rujito, kondisi Mojorejo menjadi contoh bahwa desa dengan keterbatasan wisata alam tetap dapat mengembangkan desa wisata. Kuncinya adalah menemukan sesuatu yang menjadi karakter masyarakat.
Baca Juga: Ladang Bunga Matahari di Kota Batu Jadi Magnet Wisatawan Luar Daerah - Radar Batu
Selain sejarah Prasasti Sangguran, Mojorejo memiliki kampung kerukunan beragama dan kampung organik.
Kampung organik tersebut dikembangkan Kelompok Wanita Tani (KWT). Warga memanfaatkan lahan yang terbatas untuk membudidayakan sayuran organik dengan konsep urban farming.
Bagi masyarakat setempat, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi wisatawan dari luar daerah, aktivitas itu dapat menjadi pengalaman yang berbeda.
Baca Juga: Proyek Trotoar Abdul Gani, Kota Batu Senilai Rp 1,7 M Mulai Digarap - Radar Batu
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sebuah objek. Mereka juga dapat melihat bagaimana masyarakat Mojorejo mengelola lingkungan, bercocok tanam, menjaga kerukunan, dan merawat sejarah desa.
Rujito mengatakan tantangan pengembangan desa wisata justru berasal dari cara pandang sebagian masyarakat. Masih ada anggapan bahwa sebuah destinasi harus memiliki pemandangan alam atau bangunan khusus agar layak dikunjungi wisatawan.
Padahal, sesuatu yang dianggap biasa oleh masyarakat lokal belum tentu dianggap biasa oleh wisatawan.
Baca Juga: Sewa Baju Adat dan Karnaval Kota Batu Diserbu Warga Jelang 17 Agustus - Radar Batu
Prasasti Sangguran menjadi salah satu contohnya. Bagi masyarakat Mojorejo, tradisi yang berkaitan dengan prasasti tersebut merupakan bagian dari sejarah desa. Namun, bagi wisatawan, pengalaman mengikuti ritual budaya yang tidak ditemukan di banyak tempat justru dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Konsep tersebut sejalan dengan dorongan Pemerintah Kota Batu dalam mengembangkan 24 desa dan kelurahan yang telah berstatus desa wisata. Sebanyak 18 desa wisata masuk kategori maju dan enam lainnya kategori mandiri.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengatakan setiap desa harus menggali karakter wilayahnya masing-masing. Potensi budaya, kuliner, kriya, pertanian, maupun aktivitas masyarakat dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata.
Baca Juga: Proyek Trotoar Abdul Gani, Kota Batu Senilai Rp 1,7 M Mulai Digarap - Radar Batu
Dengan konsep tersebut, desa wisata tidak harus berlomba membangun destinasi baru. Desa justru dapat menjadikan kehidupan masyarakat sebagai produk wisata.
Mojorejo menunjukkan bahwa keterbatasan panorama alam bukan akhir dari pengembangan pariwisata. Selama memiliki sejarah, budaya, aktivitas masyarakat, dan cerita yang kuat, sebuah desa tetap memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada wisatawan.
Editor : Fajar Andre Setiawan