BATU, RADAR BATU - Kota Batu terus memperkuat pengembangan desa wisata. Hingga kini, 24 desa dan kelurahan di Kota Batu telah berstatus desa wisata. Sebanyak 18 desa wisata masuk kategori maju, sedangkan enam lainnya telah mencapai kategori mandiri.
Namun, capaian tersebut belum otomatis membuat seluruh potensi lokal menjadi daya tarik wisata. Pemerintah Kota Batu masih mendorong desa dan kelurahan untuk menggali kekuatan masing-masing, mulai dari budaya, kuliner, kriya, pertanian, hingga aktivitas masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengatakan setiap desa memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, pengembangan desa wisata tidak seharusnya dilakukan dengan meniru konsep desa lain.
Baca Juga: Proyek Trotoar Abdul Gani, Kota Batu Senilai Rp 1,7 M Mulai Digarap - Radar Batu
“Ada 18 desa wisata kategori maju dan enam desa wisata kategori mandiri,” ujarnya. Beberapa desa wisata yang masuk kategori maju antara lain Desa Wisata Giripurno, Wisata Edukasi Dadaprejo, Desa Wisata Ngajak Tandang Mojorejo, dan Desa Wisata Kampung Ekologi Temas.
Sementara itu, kategori mandiri di antaranya Desa Wisata Agriraya Tulungrejo dan Wisata Sidomulyo. Menurut Onny, pemerintah ingin desa wisata berkembang berdasarkan karakter masyarakat dan potensi yang sudah tersedia. Sebab, desa wisata berbeda dengan sekadar wisata desa.
Desa wisata mengintegrasikan kehidupan masyarakat, tradisi, budaya, serta lingkungan ke dalam pengalaman wisata. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan kelembagaan yang jelas, baik melalui badan usaha milik desa (BUMDes), kelompok sadar wisata (pokdarwis), maupun kelembagaan lainnya.
Baca Juga: DPRD Minta Kasus KONI Kota Batu Tak Digiring ke Praduga Bersalah - Radar Batu
Pengembangan desa wisata juga tidak selalu membutuhkan pembangunan objek wisata baru. Aktivitas yang selama ini dilakukan masyarakat justru dapat dikemas menjadi atraksi. “Potensi lokal masing-masing desa bisa dikembangkan menjadi atraksi wisata,” kata Onny.
Selama ini, pengembangan desa wisata di Kota Batu telah menyentuh sejumlah sektor. Mulai wisata alam, kriya, hingga kuliner. Namun, sektor budaya dinilai masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan.
Kondisi tersebut terlihat di Desa Mojorejo. Wilayah tersebut tidak memiliki bentang alam spektakuler seperti sejumlah destinasi wisata lain di Kota Batu. Namun, Mojorejo mencoba mengembangkan wisata berbasis budaya dan aktivitas masyarakat.
Baca Juga: Musim Kemarau Ekstrem Ancam Jalur Pendakian di Jatim, Wisatawan Wajib Tahu Ini - Radar Batu
Salah satunya melalui peringatan Ambal Warsa Prasasti Sangguran. Tahun ini, peringatan ke-1.098 digelar pada 2 Agustus melalui tradisi budaya Puja Manusuk Sima Sangguran di Padepokan Sangguran.
Selain budaya, Mojorejo juga mengembangkan kampung kerukunan beragama dan kampung organik. Kampung organik tersebut dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan memanfaatkan lahan terbatas untuk budidaya sayuran organik menggunakan konsep urban farming.
Aktivitas sederhana tersebut dinilai dapat menjadi pengalaman wisata karena memperlihatkan kehidupan sekaligus inovasi masyarakat lokal.
Baca Juga: HUT Ke-81 RI Jadi Momentum Pemkot Batu Benahi Program MBG dan KDKMP - Radar Batu
Tantangannya, masih terdapat pandangan bahwa destinasi wisata harus memiliki panorama alam atau bangunan fisik yang menjadi daya tarik utama. Padahal, kekuatan desa wisata justru dapat muncul dari sesuatu yang telah hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, pekerjaan rumah pengembangan desa wisata di Kota Batu bukan hanya meningkatkan status klasifikasi desa. Lebih dari itu, setiap desa dituntut mampu menemukan, mengemas, dan memasarkan keunikan lokal tanpa kehilangan identitasnya.
Dengan demikian, 24 desa wisata di Kota Batu tidak harus menawarkan produk wisata yang sama. Justru perbedaan karakter setiap wilayah dapat menjadi kekuatan untuk memperkaya pilihan wisatawan.
Editor : Fajar Andre Setiawan