Belum Semua Desa Wisata Angkat Potensi Lokal, Pemkot Minta Setiap Desa Menggali Keunikan Budaya, Kuliner, Kriya, hingga Aktivitas Masyarakat

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00 WIB
ASIK BANGET : Serunya Berlibur di Desa Wisata Kota Batu Bikin Betah
ASIK BANGET : Serunya Berlibur di Desa Wisata Kota Batu Bikin Betah

BATU, RADAR BATU - Sebanyak 24 desa dan kelurahan di Kota Batu telah berstatus desa wisata. Rinciannya 18 masuk kategori maju dan enam mandiri. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan yang sama. Potensi lokal belum seluruhnya dikemas menjadi daya tarik wisata. Pemkot Batu mendorong setiap desa menggali keunikan budaya, kuliner, kriya, hingga aktivitas masyarakat. Tujuannya agar konsep tidak sekadar meniru desa wisata lain.

 

Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengatakan pengembangan desa wisata harus bertumpu pada karakter masing-masing wilayah. Sebab, setiap desa memiliki potensi berbeda. Potensi itulah yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata.

“Ada 18 desa wisata kategori maju dan enam desa wisata kategori mandiri,” ujarnya.

 

Desa wisata maju di antaranya Desa Wisata Giripurno, Wisata Edukasi Dadaprejo, Desa Wisata Ngajak Tandang Mojorejo, dan Desa Wisata Kampung Ekologi Temas. Sedangkan, kategori mandiri antara lain Desa Wisata Agriraya Tulungrejo dan Wisata Sidomulyo. Menurut Onny, desa wisata tidak sama dengan wisata desa.

 

Baca Juga: Musim Kemarau Ekstrem Ancam Jalur Pendakian di Jatim, Wisatawan Wajib Tahu Ini - Radar Batu

 

Desa wisata mengintegrasikan kehidupan masyarakat, tradisi, budaya, dan lingkungan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan kelembagaan yang jelas. Baik melalui badan usaha milik desa (BUMDes), kelompok sadar wisata (pokdarwis), maupun kelembagaan lain.

Pengembangan tersebut tidak harus selalu berujung pada pembangunan objek wisata baru. Justru aktivitas yang sudah hidup di tengah masyarakat dapat dikemas menjadi atraksi. Desa wisata di Kota Batu selama ini bergerak pada sektor alam, kriya, hingga kuliner. Sektor budaya masih belum banyak dilirik pengelola desa wisata.

 

Kepala Desa Mojorejo Rujito menilai kondisi wilayahnya menjadi contoh bahwa desa tidak harus memiliki bentang alam spektakuler untuk menarik wisatawan. Apalagi potensi wisata alam di Mojorejo relatif terbatas. Pihaknya memilih mengembangkan kekuatan budaya dan aktivitas masyarakat.

 

Baca Juga: HUT Ke-81 RI Jadi Momentum Pemkot Batu Benahi Program MBG dan KDKMP - Radar Batu

 

Salah satunya melalui peringatan Ambal Warsa Prasasti Sangguran. Tahun ini, peringatan ke-1.098 digelar pada 2 Agustus melalui tradisi budaya Puja Manusuk Sima Sangguran di Padepokan Sangguran.

 

Agenda tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Momentum itu dikemas sebagai sarana edukasi sejarah dan upaya memperkuat komitmen masyarakat. Khususnya dalam memperjuangkan pemulangan Prasasti Sangguran yang kini berada di Skotlandia.

 

“Kami juga memiliki kampung kerukunan beragama dan kampung organik. Kunjungan ke kampung organik itu cukup banyak,” kata Rujito. Kampung organik tersebut dikembangkan Kelompok Wanita Tani (KWT).

 

Baca Juga: Disbudpar Jatim Soroti Perizinan Wisata, Pemda Diminta Perkuat Pengawasan - Radar Batu

 

Warga memanfaatkan lahan terbatas untuk membudidayakan sayuran organik dengan konsep urban farming. Aktivitas sederhana tersebut justru dapat menjadi pengalaman wisata. Sebab, aktivitasnya memperlihatkan kehidupan dan inovasi masyarakat setempat.

 

Namun, pengembangan potensi lokal masih terbentur pola pikir sebagian masyarakat. Rujito menyebut masih ada warga yang menganggap destinasi wisata harus memiliki panorama alam atau objek khusus yang dibangun secara fisik.

 

Padahal, anggapan tersebut berpotensi membuat desa kehilangan keunikannya sendiri. Jika dipaksakan meniru desa yang memiliki karakter berbeda, maka pengembangan wisata justru bisa berhenti karena tidak sesuai dengan modal lokal.

 

Baca Juga: Musim Kemarau Ekstrem Ancam Jalur Pendakian di Jatim, Wisatawan Wajib Tahu Ini - Radar Batu

 

“Perlu ada kesadaran bersama, setiap potensi bisa diangkat menjadi destinasi wisata,” tegasnya. Menurut Rujito, wisatawan kini juga mencari pengalaman yang berbeda ketika menentukan destinasi. Sesuatu yang dianggap biasa oleh masyarakat lokal belum tentu demikian bagi wisatawan dari luar daerah.

 

Peringatan Prasasti Sangguran menjadi salah satu contohnya. Bagi warga Mojorejo, tradisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan dan sejarah desa. Namun, bagi wisatawan, ritual budaya yang tidak ditemui di daerah lain justru memiliki nilai keunikan.

Karena itu, tantangan desa wisata Kota Batu ke depan bukan sekadar mengejar status mandiri. Yang lebih penting adalah kemampuan desa menemukan, mengemas, dan menjual keunikan sendiri tanpa kehilangan identitas lokal.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Desa Wisata Mandiri Potensi Lokal Disparta Kota Batu wisata budaya desa wisata