BATU, RADAR BATU – Taman bunga di Batu Love Garden atau BALOGA memang selalu jadi incaran wisatawan yang ingin berfoto di tengah hamparan warna-warni.
Tetapi di balik pemandangan yang begitu indah, ada fakta yang mungkin belum banyak disadari pengunjung. Sekitar 30 persen dari 600 jenis tanaman yang dipajang di sana sebenarnya tidak berasal dari dalam negeri.
BALOGA dan Fakta di Baliknya
BALOGA resmi dibuka pada 19 Desember 2020 di kawasan Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Berdiri di lahan seluas 7 hektare, tempat ini menjadi bagian dari Jawa Timur Park Group dan kerap disebut pengunjung sebagai Jatim Park 4. Dari total ratusan jenis bunga yang ditata rapi di sana, sekitar 30 persennya merupakan bunga yang didatangkan dari luar negeri.
Fakta ini sebenarnya bukan hal aneh jika melihat sejarah bunga hias di Indonesia. Riset yang dipublikasikan di jurnal usahatani krisan potong menyebutkan bahwa mayoritas varietas krisan yang ditanam di Indonesia memang hasil introduksi dari luar negeri, terutama Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang.
Baca Juga: Specta Flora Festival di Baloga Targetkan Efek Domino Ekonomi
Gerbera modern yang banyak dijual di pasar bunga juga merupakan hasil pemuliaan dari Belanda, dengan bibit yang diimpor lalu dibudidayakan di kawasan pegunungan seperti Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Untuk komoditas mawar, Belanda bahkan tercatat sebagai penyumbang terbesar dalam perdagangan bunga dunia.
Jadi ketergantungan pada varietas asing ini bukan cuma soal BALOGA saja, tapi memang jadi pola umum di industri florikultura Indonesia sejak lama.
Kota Batu Sendiri Punya Sentra Bunga
Yang menarik, Kota Batu sebenarnya bukan daerah asing soal budidaya bunga. Kecamatan Bumiaji, tempat BALOGA berdiri, justru dikenal sebagai salah satu sentra florikultura di Jawa Timur.
Desa Gunungsari, misalnya, sudah lama jadi sentra mawar potong yang rutin memasok kebutuhan bunga ke Surabaya, Bali, hingga Jakarta.
Data triwulan pertama 2026 dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu mencatat produksi krisan potong mencapai 2.348,75 kuintal, menegaskan posisi Kota Batu sebagai salah satu sentra florikultura di provinsi ini.
Baca Juga: Baloga Pacu Pasar Florikultura lewat Specta Flora Festival
Bahkan menjelang Hari Valentine kemarin, pesanan bunga potong dari Bumiaji sempat melonjak hingga 100 persen dibandingkan dengan hari biasa.
Sayangnya, geliat produksi ini belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Salah satu laporan menyebutkan petani mawar di Kota Batu justru kelimpungan karena harga jual bunga potong stagnan bertahun-tahun, sementara biaya pupuk dan obat pertanian terus naik.
Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu keberlangsungan sektor florikultura yang selama ini jadi salah satu penopang ekonomi warga sekaligus daya tarik wisata daerah.
Fakta bahwa 30 persen bunga di BALOGA bukan berasal dari Indonesia sebenarnya bisa jadi pintu masuk untuk diskusi yang lebih besar.
Baca Juga: Baloga Jadikan Hidroponik Senjata Edukasi Ekowisata
Soal bagaimana destinasi wisata skala besar di tengah sentra pertanian bunga seperti Bumiaji bisa lebih maksimal menyerap hasil petani lokal, bukan hanya menjadikan bunga sebagai latar foto yang indah.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber