BATU, RADAR BATU - Tata kelola 132 spesies mamalia, 70 reptil, 63 ikan, 32 burung, dan 6 amfibi di Jatim Park 2, Kota Batu menerapkan manajemen kesejahteraan yang ditopang ritme lingkungan. Strategi itu terbukti ampuh menekan angka mortalitas ratusan satwa di tengah padatnya hiruk-pikuk kawasan pariwisata.
Hal itu terungkap setelah 21 mahasiswa dan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Biologi salah satu kampus swasta di Kota Malang melakukan observasi untuk membedah sistem kontrol fisik dan psikis yang diterapkan kebun binatang modern tersebut.
BACA JUGA: Hasil SPMB Jalur Domisili Kota Batu Diumumkan, 434 Siswa Lolos ke SMA dan SMK Negeri
Guru Besar Bidang Sumberdaya Perairan Prof Husain Latuconsina menyebut pengelolaan lembaga konservasi skala besar menuntut biaya pemeliharaan raksasa, khususnya pada sektor pakan. “Masing-masing hewan memiliki perilaku dan diet yang spesifik. Mulai dari herbivora, karnivora, hingga omnivora,” jelas pakar biokonservasi tersebut.
Berdasarkan pengamatannya, kondisi koleksi satwa secara umum terpantau prima. Husain menilai keberhasilan ini tak lepas dari langkah manajemen yang melibatkan kurator internasional dan tenaga profesional lainnya untuk menjaga standar kelayakan.
BACA JUGA: Sekda Kota Batu Belum Diumumkan, Tiga Kandidat Masih Menunggu Keputusan Cak Nur
Pengendalian stres pada satwa nyatanya membutuhkan perlakuan yang sangat ketat, terutama di area akuatik. Alvina Putri Maharani, salah satu mahasiswa peneliti memaparkan pihak pengelola mengandalkan sistem double check untuk memonitor kesehatan fisik dan mental satwa secara bersamaan.
Dari aspek fisik, tim medis melakukan observasi harian. Pengecekan ini mencakup nafsu makan, keaktifan gerak, hingga parameter mutlak seperti kadar pH dan oksigen air yang dipantau secara real-time.
Sementara dari aspek psikis, Jatim Park 2 mengaplikasikan barrier management guna meredam paparan stres dari pengunjung. Alur pergerakan wisatawan direkayasa sedemikian rupa untuk meminimalkan pantulan cahaya dan suara bising yang mengejutkan hewan. Setiap kandang juga wajib dilengkapi zona privat sebagai tempat satwa bersembunyi.
Alvina menekankan kebersihan dan nutrisi hanyalah syarat dasar. Faktor penentu ketenangan satwa justru terletak pada prediktabilitas lingkungan. “Satwa akan merasa aman jika lingkungannya bisa diprediksi. Pengelola harus memastikan jadwal lampu menyala, kedatangan makanan, hingga suhu air tetap stabil,” terangnya.
BACA JUGA: Bantu Warga Batu, IshK Tolaram Eye Centre (ITEC) Gelar Periksa Mata Gratis di CFD
Fasilitas pengayaan lingkungan (environmental enrichment) berupa dekorasi yang identik dengan habitat asli turut memperkuat kenyamanan tersebut. Kebijakan manajemen menetapkan toleransi ketat terhadap potensi stres.
Jika ada satu saja satwa yang menunjukkan anomali perilaku, misalanya seperti nafsu makan turun atau cara berenang yang tidak wajar, tim medis akan langsung menjadikannya prioritas penanganan. Fokus utama kebun binatang ini bukan sekadar melabeli kondisi mental satwa, melainkan menjaga persentase kesejahteraan di level maksimal untuk menjamin rendahnya angka kematian. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan