BATU, RADAR BATU - Okupansi hotel sepanjang momen libur panjang Hari Raya Waisak 2570 BE pada 30-31 Mei lalu tembus angka 80 persen. Gairah pelesiran kali ini mengungguli catatan libur Idul Adha lalu. Pada momentum keagamaan tersebut, tingkat keterisian kamar hotel tertahan di angka 60 persen karena masyarakat memilih beribadah di rumah.
Sebaliknya, libur Trisuci Waisak bertransformasi menjadi ajang mobilisasi pelancong untuk menikmati liburan secara masif. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengonfirmasi grafik kunjungan mulai merangkak naik sejak 30 Mei dan mencapai puncaknya 31 Mei malam.
BACA JUGA: Fakta-Fakta Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II yang Tewaskan 5 Orang dan 3 Hilang
“Ada peningkatan okupansi sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan masa libur Idul Adha,” ungkap Sujud. Menurutnya, daya tahan sektor pariwisata lokal bukan sekadar imbas faktor keindahan alam dan kesejukan udara. Daya tarik utama justru lahir dari sinergi lini bisnis pariwisata yang matang.
Sektor hilir hingga hulu terkoneksi baik, mulai dari destinasi, restoran, hingga pelaku UMKM.
BACA JUGA: Ternyata Terlalu Sering Pakai Earphone Bisa Mengganggu Pendengaran, Ini Penjelasannya
Efektivitas intervensi pasar ini diperkuat lewat skema penjualan paket bundling. Pengelola destinasi wisata kini bekerja sama dengan penyedia hotel untuk memberikan promo potongan harga khusus.
Siasat ini terbukti langsung mendongkrak volume pemesanan kamar secara instan. Lonjakan ini menjadi angin segar setelah bisnis akomodasi sempat lesu pada akhir pekan reguler. “Langkah jemput bola dan penetrasi promosi digital terus digencarkan agar tren positif ini tidak berumur pendek,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan