Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Sejarah di Balik Kota Batu: Dari Peristirahatan Kerajaan hingga Destinasi Wisata Idaman

A. Nugroho • Kamis, 20 Maret 2025 | 21:40 WIB

Pemandangan di dekat Alun-Alun Kota Batu (Embun Jiwa).
Pemandangan di dekat Alun-Alun Kota Batu (Embun Jiwa).

RADAR BATU - Kota Batu, yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Terletak di ketinggian 700 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut, kota ini menawarkan udara sejuk dan pemandangan alam yang memukau. Tidak heran jika saat libur Lebaran, Kota Batu menjadi tujuan favorit bagi para wisatawan.

Sejak abad ke-10, wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Batu telah menjadi tempat peristirahatan bagi keluarga Kerajaan Medang. Mpu Sindok, raja pada masa itu, menugaskan Mpu Supo untuk mencari lokasi peristirahatan di pegunungan yang dekat dengan mata air.

Baca Juga: Menikmati Sejuknya Kota Batu di Warung Mbok Sri: Lezat, Nyaman, dan Penuh Sejarah

Setelah pencarian, Mpu Supo menemukan area yang kini dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti. Di sana, ia membangun tempat peristirahatan dan sebuah candi yang diberi nama Candi Supo. Mata air di dekatnya digunakan untuk mencuci keris-keris sakti kerajaan, yang konon membuat airnya menjadi panas. Sumber air panas ini masih ada hingga kini dan menjadi daya tarik wisata di Songgoriti.

Asal-usul nama "Batu" sendiri memiliki kisah yang menarik. Nama ini berasal dari seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro bernama Abu Ghonaim atau lebih dikenal sebagai Kyai Gubug Angin. Untuk menghindari pengejaran tentara Belanda, ia dan para pengikutnya berpindah-pindah hingga tiba di lereng Gunung Panderman.

Baca Juga: Galeri Raos Kota Batu Hadirkan Wisata Sejarah melalui Lukisan Bangunan Lintas Peradaban

Di sana, ia membuka hutan dan memulai kehidupan baru setelah Perang Jawa usai. Masyarakat setempat akrab menyebutnya Mbah Wastu. Kebiasaan orang Jawa yang sering menyingkat nama membuat panggilan Mbah Wastu menjadi Mbah Tu, Mbatu, atau Batu. Dari sinilah nama Kota Batu berasal.

Pada masa kolonial Belanda, keindahan dan kesejukan Kota Batu menarik perhatian bangsa Eropa. Banyak orang Belanda yang membangun rumah peristirahatan di daerah ini. Mereka bahkan menjuluki Kota Batu sebagai "De Kleine Zwitserland" atau "Swiss Kecil di Pulau Jawa" karena kemiripannya dengan lanskap Swiss.

Baca Juga: Persiapan Wajib Sebelum Liburan ke Wisata Batu: Biar Seru & Lancar!

Selain itu, Kota Batu juga dikenal dengan julukan "Kota Apel" karena buah apel menjadi komoditas perkebunan utama di daerah ini. Kota ini juga disebut sebagai "Kota Agropolitan" karena tanahnya yang subur mendukung perkembangan pertanian yang pesat.

Secara administratif, Kota Batu awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Pada 6 Maret 1993, Batu ditetapkan sebagai kota administratif. Kemudian, pada 17 Oktober 2001, Batu resmi menjadi kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

Baca Juga: Candi Songgoriti, Wisata Bersejarah Kota Batu dengan Rahasia yang Jarang Diketahui

Kini, Kota Batu terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan. Berbagai objek wisata, mulai dari taman rekreasi, desa wisata, hingga museum, tersedia untuk memanjakan wisatawan. Keindahan alam yang berpadu dengan kekayaan budaya dan sejarah menjadikan Kota Batu sebagai pilihan tepat untuk menghabiskan libur Lebaran.

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Kota Batu saat libur Lebaran, selain menikmati destinasi wisata modern, sempatkanlah untuk menelusuri jejak sejarah kota ini. Dengan demikian, Anda tidak hanya mendapatkan pengalaman rekreasi, tetapi juga menambah wawasan tentang perjalanan panjang Kota Batu dari masa ke masa. (my)

 

Editor : A. Nugroho
#Ramadan 2025 #sejarah kota batu #kota wisata batu