Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Candi Songgoriti, Wisata Bersejarah Kota Batu dengan Rahasia yang Jarang Diketahui

Aditya Novrian • Selasa, 18 Maret 2025 | 21:40 WIB

Candi Songgoriti (Sadayuki Matsuoka).
Candi Songgoriti (Sadayuki Matsuoka).

RADAR MALANG - Kota Batu dikenal sebagai kota wisata dengan beragam destinasi menarik, mulai dari wisata alam hingga peninggalan sejarah. Salah satu situs bersejarah yang unik dan patut dikunjungi adalah Candi Songgoriti. Terletak di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, candi ini menyimpan berbagai keunikan yang tak banyak diketahui orang.

Tiga Keunikan Candi Songgoriti

Mengutip dari Instagram @pemkotbatu_official, Candi Songgoriti juga dikenal dengan nama Candi Supo. Bangunan ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun sekitar tahun 888 Masehi. Uniknya, pengunjung dapat mengunjungi situs ini tanpa dipungut biaya karena tidak ada penjagaan yang ketat di area candi.

Baca Juga: Kenali Situs Budaya, Kunjungi Wisata Candi Era Hindu-Budha Kawasan Malang di Akhir Pekan

Salah satu daya tarik utama Candi Songgoriti adalah keberadaan dua sumber mata air yang mengalir berdampingan, yakni sumber air panas dan sumber air dingin. Keberadaan dua sumber air dengan suhu berbeda ini dianggap sebagai fenomena alam yang langka dan mengagumkan.

Keunikan lainnya terletak pada struktur bangunan candi. Konon, sebagian badan candi sudah terkubur dalam tanah akibat perubahan cuaca selama ratusan tahun. Meski demikian, kesan sakral masih terasa kuat saat menginjakkan kaki di kawasan ini. Selain itu, sistem pengairan yang ada di candi ini tergolong unik karena beberapa bagian bangunan difungsikan sebagai saluran air yang menyerupai air mancur.

Sejarah dan Fungsi Candi Songgoriti

Sejarawan Malang, Suwardono, menyebut bahwa Candi Songgoriti merupakan candi patirthan yang berhubungan erat dengan sumber air panas alami. "Di situ (lokasi Candi Songgoriti) awalnya ada mata air panas yang tersembur keluar dari sungai bawah tanah yang diduga bersumber dari Gunung Welirang. Semburan itu sama seperti yang keluar di Cangar," ujar Suwardono kepada detikJatim, Kamis (18/1/2024).

Baca Juga: Galeri Raos Kota Batu Hadirkan Wisata Sejarah melalui Lukisan Bangunan Lintas Peradaban

Masyarakat Hindu yang hidup pada masa itu membangun candi ini sebagai tempat pemujaan. Bagian bawah ruang induk Candi Songgoriti sendiri merupakan sumber air panas yang teknis pengalirannya sudah diatur dengan pipa-pipa khusus. Air tersebut ditampung dalam kolam yang dikelilingi dinding batu, kemudian dialirkan ke pancuran yang terletak di sisi kolam.

Menariknya, Candi Songgoriti tidak memiliki pintu masuk. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ritual pemujaan pada masa lampau, masyarakat tidak perlu naik ke candi, melainkan cukup berada di pinggir kolam. Hal ini memperkuat dugaan bahwa candi ini berfungsi sebagai tempat transformasi air belerang yang dahulu dipercaya sebagai air suci yang mujarab.

Baca Juga: Indahnya Bangunan Peninggalan Zaman Dulu, Berikut Daftar Wisata Sejarah di Malang Raya

Sejarah Candi Songgoriti juga berkaitan dengan Prasasti Sangguran yang dibuat pada tahun 928 Masehi. Prasasti ini, yang kini berada di Inggris, mencatat bahwa wilayah Sangguran dijadikan desa perdikan yang hasilnya diperuntukkan bagi kelangsungan bangunan suci para pandai besi di Mananjung. "Saya menganggap bangunan suci para pandai besi itu mengarah pada Candi Songgoriti," ungkap Suwardono.

Candi Songgoriti pertama kali ditemukan oleh Van Ijsseldijk pada tahun 1799 dan telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada tahun 1849 dan 1863, Pemerintah Hindia Belanda melakukan pemugaran yang dipimpin oleh Jonathan Rigg dan Brumund. Kemudian, J. Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1902, yang dilanjutkan dengan restorasi pada tahun 1921. Bentuk candi yang kita lihat sekarang merupakan hasil restorasi yang dilakukan pada periode 1938-1944 oleh Oudheidkundige Dienst Hindia Belanda.

Tradisi Jenang Suro di Songgoriti

Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, masyarakat Songgoriti juga masih mempertahankan tradisi turun-temurun, salah satunya adalah Tradisi Jenang Suro. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Suro (Muharram dalam kalender Islam) sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang telah diberikan.

Tradisi ini dilakukan di sekitar kompleks Candi Songgoriti, yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, masyarakat bersama-sama memasak jenang dari bahan-bahan seperti beras Jawa, kelapa, dan kacang. Jenang yang telah matang kemudian dibagikan kepada warga sekitar dan disertai dengan lauk pauk seperti perkedel.

Baca Juga: Situs Patirtaan Ngawonggo, Destinasi Liburan Berbalut Sejarah dengan Suasana yang Asri dan Menenangkan

Selain memasak jenang, kegiatan ini juga diiringi oleh pembacaan tembang Macapat sebagai bentuk tolak bala. Tradisi Jenang Suro ini menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga, mulai dari anak-anak hingga sesepuh desa.

Candi Songgoriti bukan sekadar situs bersejarah, tetapi juga memiliki berbagai keunikan yang menjadikannya destinasi wisata menarik di Kota Batu. Dari fenomena dua sumber mata air hingga sistem pengairannya yang unik, candi ini menyimpan banyak cerita yang layak untuk dikunjungi dan dipelajari. Ditambah dengan Tradisi Jenang Suro yang masih dijaga hingga saat ini, kawasan Songgoriti bukan hanya menawarkan wisata sejarah, tetapi juga kearifan budaya lokal yang patut dilestarikan. (my)

 

Editor : A. Nugroho
#warisan budaya #candi songgoriti batu #kota batu #wisata sejarah #mataram kuno