BATU, RADAR BATU - Transformasi pertanian konvensional menuju sistem berbasis teknologi mulai didorong Pemkot Batu. Melalui kerja sama dengan akademisi Universitas Brawijaya (UB), kawasan Smart Integrated Farming (SIF) seluas 2,59 hektare bakal dikembangkan menggunakan Internet of Things (IoT).
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, teknologi IoT akan menjadi salah satu tulang punggung pengoperasian kawasan SIF. Berbagai sensor digital dipasang. Tujuannya untuk memantau kondisi tanah, kelembapan udara, hingga kebutuhan nutrisi tanaman. Sensor digital bakal memantau secara real-time melalui sistem terpusat.
Penerapan SIF tidak hanya menyasar digitalisasi budidaya hortikultura. Konsepnya dirancang sebagai ekosistem pertanian terpadu. Mencakup pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan hasil pascapanen, hingga pemasaran. Kawasan percontohan nantinya dibagi menjadi 11 zona terintegrasi.
Baca Juga: Alya Resmi Lulus dari JKT48, Begini Proses Graduation yang Dilalui - Radar Batu
Limbah dari satu sektor akan diolah kembali untuk mendukung produktivitas sektor lainnya. Menurut Nurochman, modernisasi pertanian penting untuk menjaga keberlanjutan petani lokal. Sebab, laju pembangunan Kota Batu sebagai daerah pariwisata berpotensi menggerus lahan sekaligus minat generasi muda untuk bertani.
Teknologi juga diharapkan mengubah citra pertanian yang selama ini identik dengan pekerjaan tradisional dan menguras tenaga. “Lewat teknologi, bertani bisa menjadi lebih terukur, modern, dan bernilai ekonomi tinggi,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menambahkan, SIF juga akan didukung inovasi lain seperti teknik kultur jaringan dan pengolahan pascapanen modern. Dia meminta inovasi petani muda lokal turut diakomodasi dalam ekosistem tersebut.
“Teknologi dalam SIF ini jangan sampai berhenti sebagai proyek percontohan di atas kertas saja. Integrasi teknologi harus mampu memberi nilai tambah riil dan mendongkrak daya jual produk pertanian unggulan Kota Batu,” tandas politikus Gerindra tersebut.
Editor : Fajar Andre Setiawan