Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kisah Evan Alviano Atmaja, Siswa ABK Berbakat SMAN 10 Malang - Kuasai 7 Alat Musik, Melodi Jadi Cara Komunikasi

Fajar Andre Setiawan • Sabtu, 9 Mei 2026 | 20:30 WIB
MEMUKAU: Evan Alviano Atmaja unjuk kepiawaian menekan tuts piano di Car Free Day Kota Malang beberapa waktu lalu. Aksinya memukai banyak pengunjung di sana.
MEMUKAU: Evan Alviano Atmaja unjuk kepiawaian menekan tuts piano di Car Free Day Kota Malang beberapa waktu lalu. Aksinya memukai banyak pengunjung di sana.


Kata-kata adalah labirin yang rumit untuk sebagian anak. Bagi Evan Alviano Atmaja, jalan keluarnya adalah nada. Siswa inklusi asal SMAN 10 Malang itu menguasai tujuh instrumen musik. Musik seolah menjadi pita suaranya. Dia membuktikan bahwa kecerdasan tak melulu soal angka di atas kertas ujian.

AGAM PRIAMBODHO


SUARA
gitar mengalun presisi. Mengiris keheningan ruang kelas. Nadanya tegas dan seolah bercerita tentang dunia luas. Setiap melodi terasa penuh emosi. Pemainnya seperti ingin menyampaikan gambaran dunia dengan versi berbeda.

Namanya Evan Alviano Atmaja. Di atas kertas presensi, remaja laki-laki yang akrab disapa Evan itu berstatus siswa inklusi alias anak berkebutuhan khusus. Label sebagai anak autis ringan kerap jadi pembatas. Namun, saat ia duduk di depan instrumennya, stigma itu luruh.

BACA JUGA: Realisasi Meningkat, Opsen PKB Kota Batu Tembus Rp6,3 Miliar

Ia bukan sekadar murid istimewa. Evan seorang musisi jenius. Komunikasi verbal kerap menjadi tembok tebal bagi anak inklusi. Tembok itu menjelma sekat yang memisahkan mereka dari obrolan wajar sehari-hari.

Evan menolak terkurung. Ia meruntuhkan tembok itu dengan nada. Musik menjadi bahasa ibunya yang baru. Bakat ini jauh melampaui hobi belaka. Bagi Evan, musik adalah alat bicara. Ia bahkan menguasai tujuh instrumen sekaligus.

BACA JUGA: Setelah Diprotes, Al Hikmah Kota Batu Mulai Buka Akses ke Sumber Air

Ia lihai menekan tuts piano, memetik gitar, menggebuk drum, dan mencabik bass. Ia juga mahir memukul gendang, menggetarkan angklung, hingga meniup harmonika. Jemarinya menari menutupi bibir yang kesulitan merangkai kata.

Musik menyuarakan kegembiraannya. Musik meneriakkan keresahannya. Banyak pihak menyebut kemampuan Evan sebuah keajaiban. Padahal, kelihaiannya memainkan tujuh alat musik tidak ujug-ujug jatuh dari langit. Ada dedikasi ekstrem di baliknya.

BACA JUGA: Median Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Junjero, Kota Batu Kembali Menelan Korban

Ini adalah perkara hiper-fokus. Mengulang tangga nada berjam-jam mungkin membosankan bagi siswa biasa. Bagi Evan, repetisi adalah kenyamanan. Ia memiliki telinga yang peka. Satu kali dengar, nada langsung terekam.

Ia mampu menghafal komposisi rumit dalam kedipan mata. Sebuah manuver yang acap membikin musisi profesional iri. Bukti kejeniusannya tidak kaleng-kaleng. Evan telah menaklukkan berbagai panggung.

Ia tampil memukau pada peringatan Hari Guru Nasional di Stadion Gajayana. Ia juga pernah membius penonton dalam pertunjukan di Museum Brawijaya. Gelar Juara Harapan 2 FLS3N Kota Malang kategori Kreativitas Musik Tradisi pun sukses disabetnya.

BACA JUGA: Baloga Jadikan Hidroponik Senjata Edukasi Ekowisata

Keterbatasan kognitif bukan alasan untuk tampil semenjana. Standarnya tetap tinggi. Kehadirannya menampar paradigma pendidikan konvensional. Ia membuktikan bahwa kecerdasan bukan cuma deretan nilai matematika.

Ada kecerdasan musikal dan kinestetik yang berhak mendapat panggung setara. Inklusi sejati tak berhenti pada pemberian kursi kosong di sudut kelas. Inklusi adalah memberikan sorot lampu bagi potensi mereka untuk meledak.

BACA JUGA: Daycare di Kota Batu Menjamur, Tapi Tak Punya Induk Pengawasan Resmi

Pertunjukan permainan gitar usai memanjakan penghuni kelas. Tepuk tangan riuh pecah meruntuhkan decak kagum. Setidaknya, ada satu kesadaran kolektif mutlak, musik tak pernah peduli siapa pemainnya.

Musik hanya tunduk pada ketulusan rasa. Dan dari balik sekat keterbatasan itu, Evan meracik harmoni. Ia mengubah perbedaan dan keterbatasan menjadi sebuah mahakarya apik yang membuka mata banyak orang. (Agam Priambodho/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#siswa abk #sman 10 malang #pemusik #fls3n