Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Jejak Penyebaran Ajaran Islam (7): Cicit Sunan Kalijaga Punya Peran Besar Islamkan Warga Batu

Bayu Mulya Putra • Jumat, 7 Maret 2025 | 18:30 WIB
PUNYA PERAN PENTING: Salah seorang peziarah sedang memanjatkan doa di area makam Mbah Mbatu, kemarin (6/3).
PUNYA PERAN PENTING: Salah seorang peziarah sedang memanjatkan doa di area makam Mbah Mbatu, kemarin (6/3).

Dari area makam Mbah Mbatu, ada sosok Raden Bagus Joyo Permadi atau Pangeran Rojoyo yang patut dikenang warga Kota Batu. Berkat beliau, agama Islam menyebar semakin masif di Kota Batu. Salah satunya ditandai dengan berdirinya Pondok Pesantren Banaran.

RORI DINANDA BESTARI

Salah satu jejak penyebaran Islam di Kota Batu ada di Jalan Masjid, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.

Di sana ada makam Mbah Mbatu. Sebelum memasuki area makam, ada gapura besar menyerupai candi.

Total ada empat makam di sana.

Kabarnya merupakan makam dari Raden Ayu Dewi Condro Asmoro, Raden Bagus Joyo Permadi atau Pangeran Rojoyo, Raden Ayu Dewi Mutmainah, dan Kyai Abu Naim.

"Keempat tokoh tersebut memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Kota Batu," terang Arif Rahman, keturunan keempat Pangeran Rojoyo.

Nama Mbah Mbatu sendiri berasal dari sebutan Mbah Tuo, gelar yang diberikan kepada Raden Ayu Dewi Condro Asmoro.

Beliau merupakan putri Raja Majapahit Suhito Kerto Bumi dengan Dewi Anjasmoro.

Para muridnya memanggil Mbah Condro menjadi Mbahtu yang selanjutnya disebut Mbatu.

Sehingga muncullah istilah Mbah Mbatu.

Agama Islam mulai banyak berkembang di Kota Batu melalui Pangeran Rojoyo.

Beliau merupakan putra Sunan Kadilangu, cucu Sunan Mutia sekaligus cicit Sunan Kalijaga.

Mulanya, beliau belajar agama Islam bersama Syekh Maulana di Pesantren Dermayu, Cirebon.

Setelah Sunan Kadilangu wafat, Pangeran Rojoyo diminta menggantikan ayahnya untuk menjadi Tumenggung Kadilangu Demak.

"Semasa memimpin, Pangeran Rojoyo sempat terlibat dalam peperangan besar pada tahun 1600 melawan Amangkurat II dan Belanda," tutur Arif.

Kalah dalam perang, beliau kemudian hijrah ke Gunung Muria untuk bertemu Sunan Muria.

Dari sana beliau diberikan arahan untuk mengembara ke timur dan menyebarkan agama Islam.

Hingga tibalah beliau di Wono Aji atau Banaran Bumiaji yang kini menjadi Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Pangeran Rojoyo menetap di Desa Bumiaji selama sembilan tahun dan rutin melaksanakan tablig.

Di sana, Pangeran Rojoyo mendirikan Pondok Pesantren Banaran.

Satu per satu anak Pangeran Rojoyo datang ke Bumiaji.

Melalui para santrinya, beliau melakukan syiar dan menyebarkan agama Islam.

Usahanya menyebarkan Islam dilakukan melalui adat masyarakat setempat.

"Beliau dibantu oleh istrinya RA Dewi Mutmainah," tutur Arif.

Satu per satu tokoh mulai menjadi pengikut Raden Rojoyo.

Seperti Ki Ageng Gribig yang mengembara ke Malang Selatan, Mbah Patok di kawasan Songgoriti, dan Mbah Zakaria di kawasan Lesti.

"Termasuk Mbah Condro (Mbah Mbatu) juga diislamkan oleh Pangeran Rojoyo," ujarnya.

Mulanya, usia Mbah Condro terlampau tua menyentuh 208 tahun dan belum kunjung meninggal.

Beliau diberi tahu jika seseorang yang meninggal akan bertemu sosok berjubah putih.

Sementara, Mbah Condro meyakini jika Islam dapat mengantarkannya menemui sosok tersebut.

Terbukti, Mbah Condro meninggal seusai membaca shahadat.

Dari sana, Raden Rojoyo semakin dikenal sebagai seorang wali.

Beliau dikenal sebagai salah satu wali dari Indonesia dan dinobatkan menjadi imam besar di Makkah.

"Beliau juga sempat diberi gelar oleh Raja Mesir sebagai Syekh Karim Abdul Ghonaim," cerita pria kelahiran 1976 itu.

Setelahnya, Pangeran Rojoyo berniat memboyong sang istri Dewi Mutmainah pindah ke Banaran Bumiaji.

Bersama tujuh anaknya, Dewi Mutmainah kemudian ikut mengasuh Pondok Pesantren Kabenaran di Bumiaji.

Selama di sana, datang seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari serbuan Belanda.

Keduanya bersama-sama menyebarkan Islam kepada santri-santri baru hingga ke kawasan lain di Malang Raya.

Sejak saat itu, agama Islam terus tersebar di Kota Batu dan Malang Raya.

Untuk tetap mempertahankan sejarah, keturunannya rutin menggelar haul setiap tahun.

Khususnya setiap Rajab pada Kamis Kliwon, seperti pada 24 Januari lalu.

Arif juga masih menyimpan beberapa peninggalan Pangeran Rojoyo.

Seperti Alquran dengan tulisan tangan dari Pangeran Rojoyo, kitab pengobatan, kitab ilmu, dan cerita penyebaran agama Islam yang ditulis para santri Pangeran Rojoyo menggunakan Arab Pegon.

Buku itu kini diterbitkan kembali versi Bahasa Indonesia bertajuk Babat Islam Tanah Batu yang ditulis oleh Muhammad Nachrowi, keturunan keempat Raden Rojoyo. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#warga batu #jejak penyebaran ajaran Islam #Mbah Mbatu