Jelang Penghujan, 3 Bencana Hidrometeorologi Mengintai

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi hujan. Foto: Ist
Ilustrasi hujan. Foto: Ist

BATU - Sebanyak 106 kejadian bencana hidrometeorologi tercatat di Kota Batu hingga awal 7 Oktober tahun ini. Tanah longsor mendominasi dengan 49 kejadian. Disusul cuaca ekstrem 41 kejadian dan banjir 16 kejadian. Memasuki musim penghujan, ketiga bencana tersebut kembali mengancam sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan mulai berlangsung bulan depan. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember. Kondisi tersebut perlu diantisipasi. Apalagi mengingat curah hujan tinggi berpotensi meningkatkan risiko banjir, longsor, dan angin kencang.

Baca Juga: Cuka Buah dari Kota Batu Tembus Pasar Luar Negeri

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Suwoko mengatakan, berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), sedikitnya 100 orang terdampak bencana hidrometeorologi hingga awal Oktober. “Rinciannya, 16 kejadian banjir, 49 kejadian tanah longsor, dan 41 kejadian cuaca ekstrem,” ujarnya.

Ancaman bencana tersebut bukan hal baru. Sepanjang 2025, BPBD mencatat 198 kejadian hidrometeorologi. Rinciannya, 25 banjir, 127 tanah longsor, dan 46 kejadian cuaca ekstrem, termasuk angin kencang dan puting beliung.

Baca Juga: Karhutla Kalimantan Masih Terjadi, Kabut Asap Pekat Membuat Langit Barito Selatan Menguning

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menjelaskan, peningkatan curah hujan dalam durasi panjang memperbesar risiko bencana. Terutama di wilayah dengan karakteristik geografis tertentu. “Puncak musim hujan umumnya terjadi akhir hingga awal tahun. Biasanya bulan-bulan itu rawan bencana alam,” kata Gatot.

Menurut dia, periode rawan diperkirakan berlangsung mulai Desember hingga sekitar Februari. Karena itu, pemetaan wilayah rawan dan penguatan mitigasi perlu dilakukan sebelum intensitas hujan meningkat.

Baca Juga: 175 Tersangka Narkoba Ditangkap di Malang, 111 Ribu Pil Dobel L Disita

Gatot menyebut, kerawanan longsor dipengaruhi tiga indikator utama. Di antaranya kemiringan lereng, kondisi tanah, dan kerapatan vegetasi. Lereng curam dengan tanah yang mudah gembur saat terkena air serta minim tanaman pengikat memiliki risiko lebih tinggi.

Sejumlah wilayah yang perlu diwaspadai antara lain Desa Sumberbrantas, Tulungrejo, Gunungsari, dan Bulukerto. Selain memiliki lereng cukup curam, beberapa bagian wilayah tersebut dinilai membutuhkan penguatan vegetasi.

Baca Juga: BPS Kota Batu Tegaskan Desil Bukan Label Permanen

“Memang empat wilayah tersebut lerengnya juga cukup parah sedangkan kerapatan vegetasinya kurang. Harusnya penanaman vegetasinya lebih diperkuat lagi,” katanya. Banjir juga berpotensi terjadi ketika hujan deras memicu limpasan air dari wilayah yang lebih tinggi.

Sejumlah kawasan di Bumiaji berisiko menerima aliran air bercampur lumpur dari bagian atas. Sementara di Gunungsari, potensi banjir juga perlu diwaspadai karena keberadaan aliran Sungai Brantas.

Baca Juga: Data Kendaraan hingga Listrik di Kota Batu Direncanakan Terintegrasi

Ancaman berikutnya ialah cuaca ekstrem berupa angin kencang dan puting beliung. Dampaknya dapat berupa pohon tumbang hingga kerusakan bangunan. Pada 2026, kejadian angin kencang paling banyak tercatat pada Maret, yakni dengan 17 kejadian.

Januari menyusul dengan 14 kejadian. Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya 30 bangunan rusak akibat tertimpa pohon tumbang. Salah satu kejadian berlangsung pada 8 Maret 2026 di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu.

Baca Juga: Warga Bisa Sanggah Peringkat Desil

Pohon jati berdiameter sekitar 20 sentimeter dan tinggi sekitar 10 meter tumbang akibat kondisi akar yang rapuh. Pohon tersebut menimpa rumah warga hingga merusak atap dapur.

Kejadian serupa terjadi pada 17 Maret 2026 di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo.

Hujan disertai angin kencang menyebabkan atap kanopi di kantor Jasmil Arhanud mengalami kerusakan. Rentetan kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya mitigasi sebelum musim hujan mencapai puncaknya. Selain itu, pemantauan aliran air dan kondisi pohon di sekitar permukiman juga diperlukan untuk menekan risiko bencana.

Editor : Fajar Andre Setiawan
bencana hidrometeorologi musim hujan kota batu