Curah Hujan di Kota Batu Rendah hingga 20 September, Kecepatan Angin Naik Menjadi 48 Km Per Jam

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi. Kemarau basaha diprediksi melanda Indonesia hingga bulan Agustus. (freepik/prostooleh)
Ilustrasi. Kemarau basaha diprediksi melanda Indonesia hingga bulan Agustus. (freepik/prostooleh)

BATU, RADAR BATU - Puncak kemarau 2026 di Jawa Timur terjadi pada September ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan rendah hingga 20 September mendatang. Peluangnya lebih dari 90 persen. Kondisi tersebut ditandai hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Durasi itu masuk kategori kekeringan ekstrem. Selain itu, kecepatan angin maksimum terpantau mencapai 48 kilometer per jam (km/jam) pada 12 September.

Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata angin sebelumnya yang berkisar 10-20 km/jam. Untuk itu, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Taufiq Hermawan mengimbau masyarakat mewaspadai angin kencang. 

“Peningkatan kecepatan angin berpotensi terjadi di beberapa wilayah, salah satunya Kota Batu,” kata Taufiq. Menurut dia, kondisi tersebut dipicu perbedaan tekanan udara yang besar antara wilayah timur Australia dan kawasan dekat ekuator. Perbedaan tekanan itu memperkuat aliran angin timuran dari Australia menuju Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur.

Baca Juga: BSFF ke-9 Digelar di Kota Batu, 40 Tenant Kuliner Ramaikan Festival - Radar Batu

Peningkatan angin yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat diperkirakan bertahan hingga dua-tiga hari, atau sampai 15 September. “Kami mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar waspada terhadap peningkatan kecepatan angin. Terutama pada siang hingga sore hari,” imbuhnya.

Taufiq meminta masyarakat tidak berlindung di lokasi berbahaya saat angin kencang. Warga juga diimbau tidak berdiri atau memarkir kendaraan di bawah pohon rindang, baliho, atau bangunan rapuh. Pengendara sepeda motor dan pengemudi yang melintas di jalan layang atau jembatan terbuka diminta lebih berhati-hati.

Dorongan angin dari samping dapat menggoyangkan kendaraan. Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pembakaran sampah dan material lain. Sebab, api lebih cepat menyebar saat angin kencang sehingga sulit dipadamkan.

Baca Juga: Dipilih Menjadi Venue Konser Pita Kita Mendatang, Ini Fakta tentang Graha Cakrawala - Radar Batu

Sementara itu, pekerja proyek luar ruang di gedung tinggi, termasuk pembersih jendela, diminta menghentikan sementara aktivitas ketika angin menguat. Langkah tersebut untuk mencegah kecelakaan kerja.

Terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Kepala BPBD Kota Batu Suwoko meminta warga melakukan sejumlah langkah antisipasi. “Antara lain memeriksa dan memperkuat atap, genteng, kanopi, serta bagian bangunan yang berpotensi terlepas,” kata dia.

Masyarakat juga diminta mengamankan benda ringan di luar rumah. Selain itu, memangkas dahan pohon yang rapuh dan menghindari memarkir kendaraan di bawah pohon besar, tiang reklame, maupun struktur yang berpotensi roboh. Saat angin kencang terjadi, warga diimbau segera berlindung di dalam bangunan kokoh.

Baca Juga: New Wisata Wendit Malang, Destinasi Legendaris yang Kini Tampil Lebih Modern - Radar Batu

Sebelumnya, dahan pohon tabebuya tumbang akibat angin kencang di Jalan Trunojoyo, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu pada 12 September lalu. Dahan tersebut memiliki panjang sekitar lima meter. Akibat kejadian itu, sebagian badan jalan ditutup. Dahan juga menimpa kabel penerangan jalan umum (PJU).

Saat proses penanganan, petugas memberlakukan sistem buka tutup jalan demi kelancaran evakuasi. “Bagi pengguna kendaraan, diharapkan mengurangi kecepatan dan berhenti di lokasi yang aman apabila kondisi membahayakan,” imbuhnya.

Setelah angin kencang, masyarakat diminta tetap waspada terhadap pohon, tiang, atap, atau bangunan yang mengalami kerusakan. Warga juga dilarang mendekati kabel listrik yang putus atau menjuntai. Masyarakat diminta segera melaporkan kejadian yang membahayakan kepada BPBD Kota Batu. Selain itu, warga diimbau tidak membakar sampah, daun kering, maupun serasah secara sembarangan, terutama saat musim kemarau.

Vegetasi yang kering dan angin kencang dapat membuat api mudah merambat. Kondisi tersebut berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali risiko, mengamankan lingkungan, memantau informasi resmi, mengutamakan keselamatan, serta tetap tenang dan tidak panik.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Puncak Kemarau bmkg angin kencang kemarau BPBD