BMKG Tetapkan Status Kekeringan Level Awas, Sejumlah Wilayah RI Masuk Zona Merah Kritis

Nabillah Puteri Vinandika • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 16:10 WIB
Seorang petani berjalan melintasi area lahan persawahan yang mengering dan retak-retak akibat dampak kemarau panjang, menyusul peringatan dini kekeringan meteorologis dari BMKG yang menetapkan sebagian besar wilayah Pulau Jawa dalam status zona merah. (Foto: Dok. Istimewa via detikcom)
Seorang petani berjalan melintasi area lahan persawahan yang mengering dan retak-retak akibat dampak kemarau panjang, menyusul peringatan dini kekeringan meteorologis dari BMKG yang menetapkan sebagian besar wilayah Pulau Jawa dalam status zona merah. (Foto: Dok. Istimewa via detikcom)

 JAKARTA, RADAR BATU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status kekeringan meteorologis level "Awas", kategori tertinggi dalam sistem peringatan dini kekeringan, di sejumlah wilayah Indonesia untuk periode Dasarian II September 2026, yakni 11–20 September 2026.

Berdasarkan pemutakhiran data BMKG, zona merah berstatus Awas melanda berbagai kabupaten/kota di penjuru tanah air. Sebaran wilayah terdampak meliputi Sumatera Bagian Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, hingga meluas ke wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Bagian Selatan.

BMKG membagi peringatan dini kekeringan meteorologis menjadi tiga tingkatan: Waspada, Siaga, dan Awas. Status Awas menandakan kondisi paling kritis yang menuntut respons mitigasi cepat. Kategori tertinggi ini ditetapkan bagi wilayah yang mencatatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem lebih dari 60 hari berturut-turut dengan prospek akumulasi curah hujan yang sangat minim, yakni di bawah 20 milimeter per dasarian.

Di ibu kota, seluruh wilayah administrasi DKI Jakarta tercatat berada dalam pengawasan ketat level Awas menyusul laporan krisis pasokan air di beberapa kawasan, seperti Kalibaru dan Semper. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiagakan 29 unit truk tangki air bersih serta menjajaki peluang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memitigasi imbas kemarau panjang.
 
Situasi serupa terjadi di Jawa Tengah, di mana 25 kabupaten/kota masuk ke dalam zona Awas. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kewaspadaan atas menyusutnya cadangan sumber air.
"Berdasarkan pemantauan BMKG, wilayah berstatus Awas meliputi Cilacap, Brebes, Tegal, Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Banjarnegara, hingga wilayah di koridor pantai utara dan dataran tinggi," papar Goeroeh.
 
Sementara itu, seluruh kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta juga resmi berstatus Awas. Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Mamenun, menjelaskan fenomena kekeringan parah ini dipicu oleh aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering serta anomali dinamika atmosfer global akibat indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO).
 
Menghadapi puncak musim kemarau, BMKG meminta pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk memperketat efisiensi penggunaan air bersih serta mewaspadai potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada kawasan-kawasan terbuka.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dikutip dari Berbagai Sumber
el nino kekeringan Musim kemarau Status Awas bmkg