BATU, RADAR BATU - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Butak-Kawinajang melalui water bombing belum membuahkan hasil. Sehari setelah operasi udara pertama yang digelar pada Senin lalu (14/9), api masih membara dan luasan kebakaran telah mencapai sekitar 700 hektare.
Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang Kelik Djatmiko mengatakan, medan terjal dan angin kencang masih menjadi kendala utama pemadaman. Kondisi tersebut membuat api cepat menjalar dan menyulitkan penanganan dari darat. “Hari ini (kemarin, 15/9) juga akan dilakukan water bombing lagi,” ungkapnya.
Operasi darat melalui observasi dan pembuatan sekat bakar di lokasi yang memungkinkan bakal dilakukan. Sekat bakar dibuat dengan membersihkan material mudah terbakar menggunakan peralatan manual. Langkah tersebut dilakukan untuk menghambat penjalaran api di area yang memungkinkan dijangkau tim.
Baca Juga: Healing Kreatif di Kota Batu, Ini Ini Workshop Keramik dan Melukis Murah di Kota Batu - Radar Batu
Luas area terbakar terus bertambah. Awalnya diperkirakan sekitar 400 hektare, kemudian menjadi 500 hektare. Hingga 14 September lalu, luasan kebakaran mencapai sekitar 700 hektare di deretan Pegunungan Kawinajang atau yang dikenal sebagai Pegunungan Putri Tidur. “Luasan sampai hari ini (kemarin) masih akan kami petakan,” ucapnya.
Karhutla di kawasan tersebut telah terjadi tiga kali. Titik api terbaru muncul pada 12 September sekitar pukul 10.00. Penyebabnya belum dipastikan. Namun, Perhutani menduga api kembali muncul akibat bara sisa kebakaran sebelumnya yang belum sepenuhnya padam, kemudian tertiup angin kencang dan dipicu suhu panas.
Baca Juga: Terlilit Utang, Perempuan Asal Lumajang Bobol Rumah Kosong di Bumiaji Batu - Radar Batu
Kebakaran pertama muncul pada 1 September di Petak 100 dekat Pos 3. Api sempat dinyatakan padam pada hari yang sama. Namun, titik api kembali muncul pada 4 September akibat angin kencang. Upaya pemadaman manual tim gabungan saat itu dihentikan sekitar pukul 15.00. Alasannya, medan dan kondisi lapangan tidak memungkinkan.
Penanganan kemudian difokuskan pada pemadaman hingga proses pendinginan. Kelik mengatakan, analisis penyebab kebakaran akan dilakukan dengan menelusuri titik awal munculnya api. “Dari temuan kami di sana, nanti akan kami analisis penyebab pastinya,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan