BATU, RADAR BATU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Butak belum padam. Water bombing yang dikerahkan pada Sabtu lalu (5/9) belum membuahkan hasil maksimal. Alhasil, sekitar 150 personel gabungan kembali dikerahkan dari tiga arah kemarin (7/9). Tim terdiri atas personel Kepolisian Resor (Polres) Batu, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Komando Distrik Militer (Kodim), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang Kelik Djatmiko mengatakan, pemadaman dilakukan dari arah utara melalui Pesanggrahan, Kawinajang, dan Kucur. Pemadaman kembali dilakukan secara manual dengan membuat sekat bakar. Cara itu untuk menahan agar api di Petak 100 dekat Pos 3 tidak semakin meluas.
Kelik mengatakan, pihaknya juga berkomunikasi dengan Perum Perhutani KPH Blitar. Langkah itu sebagai antisipasi jika kobaran api bergerak menuju wilayah Kabupaten Blitar. Sebelumnya, Perhutani telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur untuk melakukan water bombing pada Sabtu (5/9).
Namun, upaya tersebut belum mampu memadamkan api secara menyeluruh. Pada Minggu lalu (6/9), water bombing dialihkan ke Banyuwangi. Sebab, wilayah tersebut juga mengalami kebakaran dan membutuhkan penanganan. Menurut Kelik, medan menjadi kendala utama pemadaman. Lereng perbukitan yang curam menyulitkan akses menuju titik api.
Tiupan angin kencang juga membuat kobaran api lebih cepat menyebar dan membahayakan personel. Kebakaran di Gunung Butak pertama kali dilaporkan pada 1 September lalu. Api sempat dinyatakan padam sore harinya setelah pemadaman manual. Namun, titik api kembali muncul pada 4 September.
Hingga kemarin, api di kawasan tersebut belum bisa dipastikan padam. Luasan lahan yang terdampak sementara mencapai 15 hektare. Karena kondisi belum kondusif, pendakian menuju Gunung Bokong, Panderman, dan Butak masih ditutup hingga karhutla dapat dikendalikan.
Editor : Fajar Andre Setiawan