Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Malang Raya Menggigil, Fenomena Mbediding Diprediksi Berlangsung Beberapa Bulan ke Depan

Fitri Cahya Dwi Anggriani • Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:00 WIB
Gunung Bromo, Jawa Timur, Indonesia. (Unsplash).
Gunung Bromo, Jawa Timur, Indonesia. (Unsplash).

MALANG, RADAR BATU – Udara dingin dan kering menyelimuti wilayah Malang Raya beberapa pekan terakhir. Hal tersebut bukan sekadar udara dingin biasa, namun udara dingin yang disebabkan oleh pergerakan angin muson Australia. Penurnan suhu ekstrem tersebut biasa disebut dengan istilah bediding.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Malang memperkirakan fenomena bediding akan bertahan selama beberapa bulan ke depan, yakni hingga bulan Agustus 2026.

Retno Wulandari selaku Forecaster on Duty BMKG Karangploso menjelaskan bahwa fenomena bediding di tengah musim kemarau diperkirakan terjadi hingga bulan Juli-Agustus 2026 mendatang. Ia juga menyebut bahwa puncak fenomena bediding tersebut terjadi pada bulan Juli 2026.

Baca Juga: Bediding Datang Lagi, Ini Wilayah di Malang Raya yang Suhunya Paling Dingin

"Di Malang Raya, bediding diprakirakan hingga Juli-Agustus dan berangsur suhu minimum akan meningkat pada bulan selanjutnya," kata Retno, Minggu (31/5).

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Prayitno menyebut bahwa fenomena bediding di tahun ini berpotensi lebih kuat dari tahun-tahun sebelumnya.

Lalu apa sebenarnya penyebab fenomena bediding yang menghantui warga Malang Raya saat ini?

Pihak BMKG menjelaskan bahwa saat ini, Australia sedang mengalami musim dingin yang menyebabkan tekanan udara di Benua Australia menjadi lebih tinggi dibanding wilayah Indonesia.

Baca Juga: Berburu Potret Pusat Galaksi Bimasakti di Musim Bediding Kota Batu

Akibatnya, angin muson dingin Australia terbentuk dan bergerak dari Australia menuju Indonesia dengan membawa udara dingin dan kering. Hal tersebut mempengaruhi suhu udara di Indonesia, khususnya di wilayah Selatan yang terasa lebih dingin.

Dengan demikian, warga diimbau untuk menjaga kesehatan fisik dengan mengenakan pakaian hangat di malam dan pagi hari. Selain itu, warga juga perlu mewaspadai adanya risiko embun upas yang dapat merusak tanaman atau pertanian warga.

“Kesehatan masyarakat perlu diperhatikan, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, suhu dingin ekstrem dapat menambah risiko gangguan kesehatan," tambah Prayitno.

Editor : Aditya Novrian
#malang raya #bediding